Cegah Kekerasan Seksual, BEM UPR Usulkan Peraturan Internal dan Mendorong Kampus Mendukung Sahnya RUU PKS

Uprjayaraya.com
Palangja Raya,
Institusi pendidikan sejatinya adalah tempat tumbuh kembangnya peserta didik dalam aspek literasi dan pengembangan soft skill, Perguruan Tinggi seyogianya menjadi ruang yang aman bagi seluruh pihak terutama kepada peserta didik. Namun berbagi peristiwa dan kejadian kemudian memudarkan harapan bagi penyelenggaraan Pendidikan yang seharusnya melindungi seluruh tumpah darah Indonesia.

Institusi pendidikan yang seharus nya menjadi tempat bagi pengembangan kepedulian serta penghormatan kepada kemanusiaan nyata telah disalahgunakan oleh beberapa oknum yang tidak bermoral dan tidak menjalankan semangat serta nilai-nilai pendidikan dalam perbuatan nya.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Mahasiswa Universitas Palangka Raya (BEM UPR) Epafras Meihaga, mengingat beberapa waktu silam tepat nya pada tahun 2019 sebuah peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen disalah satu fakultas yang ada di Universitas Palangka Raya telah mencoreng wajah perguruan Tinggi terbesar di Kalimantan Tengah tersebut.

“Tindakan oknum dosen tersebut telah mencoreng wajah pendidikan kita, ini sebuah kebobrokan moral seorang tenaga pendidik yang seharus nya menjadi contoh dan teladan dalam tindakan dan perbuatan nya, namun perbuatan oknum dosen cabul ini sangat kontradiktif dari nilai-nilai seorang pendidik” ungkap Haga sapaan akrab nya, Jumat 24 Juli 2020.

Oknum dosen yang telah di vonis oleh Pengadilan Negeri Palangka Raya tersebut sedari awal kasus ini bergulir Universitas Palangka Raya mengambil sikap untuk mendorong para korban dapat melaporkan kan kejadian tersebut yang langsung di dampingi oleh Universitas Palangka Raya, bahkan oknum dosen tersebut pun telah di pecat oleh Rektor Universitas Palangka Raya Dr. Andrie Elia, S.E., M.Si. Rektor pun telah mengeluarkan surat usul pemberhentian PNS dan Dosen oknum dosen tersebut ke Kemendikbud RI.

Menanggapi hal tersebut Haga menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih atas sikap tegas Rektor Universitas Palangka Raya, ini menjadi wujud nyata bahwa UPR secara kelembagaan tidak berkompromi terhadap pelaku pelecehan seksual sekalipun hal tersebut dilakukan oleh oknum dosen.

“Kami sangat mengapresiasi tindakan tegas serta kepedulian dari pihak Universitas Palangka Raya terkhusus Rektor UPR Bapak Andrie Elia Embang terhadap kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi di Lingkungan Universitas dan tindakan tegas untuk pengusulan pemberhentian oknum dosen yang berbuat demikian agar mendapat efek jera” ungkap Haga.

Haga pun menyampaikan harapan nya bahwa kedepan pihak Universitas Palangka Raya dapat membuat regulasi dalam rangka mencegah perilaku pelecehan seksual didalam kampus serta ia pun mengajak Universitas Palangka Raya agar mendorong pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

“Harapannya kedepan pihak Universitas Palangka Raya dapat membuat regulasi dalam rangka mencegah perilaku pelecehan seksual di lingkungan kampus UPR serta sama-sama mendukung dan mendorong pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai landasan yang menjadi legitimasi bagi perlindungan terhadap korban”tutup Epafras Meihaga.c t (Novia)

Berita Terkait