DAD Minta Selesaikan Secara Musyawarah. Terkait Pendirian Sapundu Desa Ramang

Uprjayaraya.com
Palangka Raya,
Menanggapi persoalan ritual pendirian Patak atau Sapundu di Desa Ramang, Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Tengah mengeluarkan tiga point kesepakatan.

Kesepatakan tersebut tercipta berdasarkan hasil musyawarah beberapa kelompok adat Dayak yang menggelar diskusi di Sekretarian DAD jalan RTA Milono pada Jumat (29/01/2021).

Musyawarah yang dipimpin ketua harian DAD Kalteng, Dr. Andrie Elia, bersama DPP Kerukunan Dayak Ngaju Kahayan, Fordayak, DAD Kabupaten Pulang Pisau, Kades Ramang dan lembaga adat lainnya.

“Latar belakang kegiatan ini yakni menanggapi pendirian Patak oleh masyarakat desa Ramang, sebagai simbol kesatuan kelompok tertentu, sebagai satu syarat salam keyakinan. Kemudian fenomena tersebut menjadi perhatian karena memunculkan pro dan kontra yang berpotensi menjadi keresahan,” katanya.

Dijelaskan, bahwa kelompok yang tergabung pada Ormas Dayak seperti KDNK telah menyampaikan surat No 005/KDNK/1/2021 tanggal 26 Januari 2021, ditujukan kepada DAD Kalteng yang menyatakan menolak pendirian Patak atau Sapundu di wilayah DAS Kahayan.

“Tujuan musyawarah ini untuk menyamakan persepsi dan menyusun formulasi penyelesaian dalam menjaga kebersamaan dan menghindari konflik internal sesama Dayak,” katanya.

Pembahasan berlansung lancar, yang mana dalam diskusi menggunakan landasan hukum UUD 1945 yakni pasal 28J ayat 1 dan 2.

Ditekankannya landasan hukum UUD tersebut yakni setiap orang wajib menghormati HAM dan tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selain itu, ditekankan juga landasan yuridis yakni pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM.

“Dari hasil musyawarah, disimpulkan yakni mengkedepankan musyawarah mufakat dalam penyelesaian pendirian Patak atau Sapundu oleh kelompok masyarakat Ramang. Kedua memahami symbol kesatuan kelompok tertentu, sebagai suatu syarat dalam keyakinan, namun menghindari konflik pemahaman yang bersentuhan dengan adat budaya Dayak Ngaju, dan memberi kesempatan masyarakat Desa Ramang yang mendirikan patak atau Sapundu untuk menyelesaikan sendiri dengan mengakomodir masukan rapat kordinasi DAD,” tutupnya dan kemudian disepakati peserta musyawarah. (Rul)

Berita Terkait