Doni Monardo Yang Tabah!

Letnan Jenderal TNI Doni Monardo

Saya sudah satu setengah bulan tidak pulang ke rumah, kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Doni Monardo pada suatu malam melalui sambungan telepon.

Pernyataannya itu mengagetkan karena jarak dari kantor ke rumahnya di kawasan Tangerang Selatan kurang dari satu jam berkendara.

Saya khawatir membawa virus CoVID-19 hingga menulari keluarga di rumah, lanjutnya.

Doni pada Maret lalu diangkat menjadi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Nasional Penanganan Covid-19 pada Maret 2020. Pembicaraan saya dengannya berlangsung pada pertengahan April.

Lama tak pulang ke rumah bukan lantaran khawatir saja, namun juga harus mempersiapkan struktur, personil, manajemen, strategi dan membangun jejaring Satgas di seluruh Indonesia.

Doni juga harus berkoordinasi dengan kementerian-kementerian terkait, pemerintah daerah dan melapor ke presiden. Ternyata Satgas juga harus memikirkan dampak ekonomis apabila memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sungguh kerja besar dan menguras tenaga serta fikiran.

Saat inipun, waktu pulang kerja tidak normal. Kalau berada di Jakarta, relatif tiap malam mengadakan rapat koordinasi dengan gugus tugas. Selain melakukan lawatan ke daerah-daerah.

Sebagai perwira berlatar belakang komando dan sandi yudha, soal fisik dan fikiran tidak masalah. Tetapi yang sangat menyulitkan, musuhnya tidak kelihatan. Ia berukuran 0,1 mikron yang berarti hanya dapat dilihat di mikroskop. Tanpa diketahui bisa dihirup, atau menempel ditangan, dibaju, diwajah dan sebagainya.

Jadi yang bisa dilakukan adalah mengingat masyarakat agar mencegah dengan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Kemudian makan makanan dan minuman serta perilaku yang menyehatkan.

Doni dan anak buahnya mensosialisasikan pencegahan agar masyarakat terhindar dari pandemi ini dengan berbagai cara. Hasilnya,  menurut worldmeter per 30 Desember 2020, dari 218 negara dan teritori yang terjangkit, Indonesia berada di urutan ke 20 dengan jumlah 727.122 orang,  kematian 21.703 orang, sembuh 596.783. Yang sudah menjalani pemeriksaan 7.24.452 orang. Hasil yang cukup baik di tengah lemahnya kesadaran masyarakat, kekurangan fasilitas kesehatan, dan kesulitan ekonomi.

Ironisnya di tengah kerja keras, terjadi peristiwa yang mengagetkan dan mencoreng. Seorang lelaki perawat melakukan hubungan sejenis dengan pasien CoVID-19 di kamar mandi Wisma Atlet.

Reaksi Ketua Satgas Covid-19 Nasional, Doni Monardo sangat terukur, jelas dan tegas. “Kami sangat menyesali perilaku seperti itu. Tidak mencerminkan budaya bangsa kita. Kasus tersebut diproses tim gabungan dan sudah masuk penyidikan oleh polisi.”

Satgas dan manajemen Wisma Atlet akan meningkatkan sistem pengawasan. Aktivitas pasien dan tenaga kesehatan akan dievaluasi agar tidak mengganggu relawan yang lain. Monitoring lewat CCTV pun segera dibenahi agar gerak gerik yang mencurigakan bisa diantisipasi.

Dilakukan pula  pembinaan rohani untuk mengingatkan kita semua agar mengikuti ketentuan yang digariskan agama kita, katanya.

Kalau melihat ungkapan kalimat di atas, saya teringat Asisten Intelijen Kopassus tahun 1996, Kolonel Inf. Amirul Isnaini. Ujarnya, seorang sandhi yudha harus bersahabat, sabar, gigih, tabah, berani dan berfikiran jernih walaupun dalam keadaan sulit.

Letnan Jenderal Doni Munardo, Danjen Kopassus 2014-2015, tetap memegang teguh prinsip-prinsip tersebut! (Sjarif)

Berita Terkait