Perdagangan Internasional : Kuasai IT Secara Maksimal, Tingkatkan Nilai Tambah

Prof Drs Nizam Jim Wiryawan SH MM PhD

Redaksi mewawancarai Prof Drs Nizam Jim Wiryawan SH MM PhD. yang memperoleh gelar PhD dari University of South Australia.

Pengalaman:
– Guru Besar di University of Canberra  (2012-2018).
– Guru Besar di Universitas Tarumanegara  dalam bidang Ekonomi Manajemen, Bisnis Internasional, Perencanaan Bisnis serta Pengembangan Industri.
Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Pancasila Sekolah Pascasarjana (S3 – Program Doktor Ilmu Manajemen)
– Mantan direktur pengembangan usaha dan perdagangan internasional Mantrust/Borsumij-Wehry/Susu Bendera Group.

1. Mengapa dalam beberapa tahun terakhir istilah bisnis internasional lebih populer dibanding perdagangan internasional? Apa yang membedakan keduanya?

Sebenarnya kedua istilah tersebut  memiliki makna serupa. International Business atau International Trade. Keduanya mengacu kepada praktek pertukaran barang dan jasa sedunia. Tentu dengan mengikuti aturan yang berlaku sebagaimana digariskan oleh, misalnya, WTO, ataupun kerjasama ekonomi regional semacam Uni Eropa, Regional Comprehensive Economic Cooperation (RCEP) dan sebagainya yang prinsip-prinsipnya ialah mengurangi hambatan perdagangan.
Yang agak berbeda ialah saudara kembarnya yang disebut dengan istilah International Economy. Perbedaannya ialah International Economy bersifat Makro, sedangkan International Business bersifat Mikro. Di Indonesia, ahli International Economy yang saya ketahui ialah Prof. Marie Pangestu yang kini di World Bank, dan pernah menjadi menteri di kabinet presiden SBY.

2. Berdasarkan pengalaman Professor dalam dunia bisnis, apa skills/knowledge yang harus dimiliki bila ingin berkecimpung dalam bisnis internasional?

Tentu zaman sekarang diharuskan juga memiliki skills di bidang IT, sebab jika dahulu cukup menguasai konten (misalnya ekonomi, kedokteran dsb), kini diperlukan pula kemampuan IT guna memadukan kedua bidang tsb, yaitu konten plus IT agar bisa melakukan innovasi di bidang knowledge.
Peluang bisnis dulu bisa didapat secara langsung, misalnya ketika berkunjung ke negara yang bersangkutan. Sekarang ini kunjungan bisa bersifat virtual saja.

3. China diramalkan akan muncul sebagai kekuatan ekonomi nomor satu dunia pada 2030-2035. Bagaimana kalangan akademis meresponsnya?

Saya perkirakan bahkan lebih cepat lagi karena sekarang saja, saat negara-negara lain terkena pandemi dan mengalami kontraksi ekonomi sehingga pertumbuhan ekonominya negatif (resesi), China sudah menunjukkan bahwa ekonomi mereka bahkan sudah tumbuh sekitar 5%-6% dalam tahun 2020 saja dilihat dari data Purchasing Manager Index mereka.
Indonesia, berdasarkan perkiraan Menteri Keuangan Dr Sri Mulyani baru akan tumbuh dengan 3 – 5% pada tahun 2021.
Juga, dengan diberlakukannya RCEP secara multi years, terbuka peningkatan pertambahan ekonomi dengan USD 500 milyar tiap tahunnya di wilayah Asia dan sebagian Pacific.
Respons kalangan akademisi tentunya ialah apa saja yang bakal meningkatkan perdagangan perlu disambut dengan gembira. Namun, di lapangan tentu memerlukan perjuangan besar agar RCEP benar-benar bisa dimanfaatkan oleh Indonesia.
Munculnya China sebagai kekuatan ekonomi nomor satu di dunia memberikan peluang besar agar Indonesia bisa ikut menjadi besar. Kita ketahui bahwa Perang Korea di tahun 1950an telah memberikan “berkah” bagi negara negara Korea Selatan, Singapore, Taiwan dan Hong Kong oleh karena mereka ini diberikan semacam kemudahan dalam rangka Supply Chain barang-barang keperluan balatentara Amerika di Korea, misalnya bidang makanan, seragam dan lain-lain. Dan mereka pun mampu mengambil manfaat serta fasilitas yang tersedia saat itu.
Inilah yang dalam literatur disebut dengan teori Angsa Terbang (The Flying Geese), yaitu di depannya ada Amerika Serikat sebagai pemimpin dan negara-negara tadi berada di belakang.
Mereka inilah yang oleh Bank Pembangunan Asia serta Bank Dunia disebut dengan The Four Little Dragons, little namun tetap dragons. Sayangnya tatkala terjadi Krisis ekonomi Asia tahun 1997/1998, mereka tersapu krisis pula.
Paul Krugman, seorang pakar bisnis international menyatakan bahwa perekonomian little dragons tadi kurang kokoh, karena bersifat “steroid pump”, seperti olahragawan yang melakukan doping. Sejatinya, kritik Paul Krugman ini ditujukan kepada Singapore dengan Lee Kuan Yew.
Jadi, menurut saya, kata kuncinya ialah kemampuan mengambil manfaat yang ada. Kesempatan memang diberikan, namun perjalanan tetap tidak mudah.

4. Seberapa jauh kultur mempengaruhi perilaku bisnis. Adakah contoh bagaimana kultur Barat mempengaruhi praktek bisnis internasional?

Bagaimana pula dengan budaya Asia?
Kultur bisa saja berdampak, sebagaimana selalu didengang-dengungkan bahwa etik kerja agama tertentu membuat negara-negara Eropa, AS menjadi maju seperti diteorikan oleh Max Weber. Atau budaya Confusianisme yang oleh almarhum Lee Kuan Yew dianggap sebagai pendukung kemajuan ekonomi Singapore, Hong Kong, Taiwan dan sebagainya.
Menurut saya, sementara kultur memang mendukung, sistem sosial politik lebih bisa memberikan dorongan serta kedisiplinan untuk bekerja keras dan bekerja baik sehingga kultur berubah menjadi pendorong kemajuan ekonomi bangsa. Jika keadaan sosial politik cenderung keras dengan perpecahan, perekonomian suatu negara bakal terkendala.
Sebagai contoh, negara-negara di Timur Tengah seperti Syria, Afganistan, Yaman, yang terperangkap budaya kekerasan serta peperangan tidak memungkinkan perekonomian mereka berkembang. Negara akan maju jika pemerintahnya stabil sehingga mampu melakukan pembangunan tanpa diganggu.

6. Kalimantan Tengah mengekspor produk-produk perkebunan dan pertambangan. Seberapa penting produk-produk ini harus diberi nilai tambah, agar lebih berdaya saing?

Kita menengok sejenak kepada teori Michael Porter  tentang Competitive Advantage. Menurut Porter, bahan mentah mesti bisa diolah dan ditransformasikan menjadi benda dengan added-value yang lebih tinggi.
Di kita, ada upaya-upaya untuk merubah batubara menjadi gas dalam proses gasifikasi sehingga bisa dijadikan gas untuk memasak seperti LPG dan dengan demikian mengurangi ketergantungan terhadap impor gas LPG itu. Ini sebuah perkembangan yang menarik
Produk perkebunan pun demikian pula mesti diberikan added-value. Kita menjadi pengekspor bahan mentah sejak VOC berkuasa 420an tahun hingga saat ini. Hanya mata dagang saja yang berubah. Jika dulu umumnya rempah-rempah seperti cengkeh, pala atau pala fuli, kini ya CPO dan batubara, yang juga komoditas. Ini mesti diubah, walaupun sejak zaman pak Harto sudah dicanangkan, misalnya oleh (ketika itu) Menteri Muda Perdagangan Dr. Sudradjad Djiwandono, Menteri  Perindustian Ir Hartarto, namun tetap belum beranjak maju.

7. Dapatkan Professor pemahaman tentang peran jejaring dalam bisnis internasional?

Jejaring internasional kini lebih mudah diciptakan lewat jaringan IT. Sehingga perusahaan kecil, UMKM, dapat juga ikut berkiprah di bidang bisnis internasional tidak seperti dulu sekitar 30-40an tahun yl dimana perusahaan besar saja yang memiiki resources (human dan financial) yang mampu masuk ke pasar mancanegara. Kini akses jaringan lebih mudah ditembus bahkan oleh UMKM sekalipun.

Berita Terkait