Rektor UPR Menjadi Narasumber Bersama Pakar Gambut Terkait Food Estate

Uprjayaraya.com
Palangka Raya,
Rektor Universitas Palangka Raya Dr Andrie Elia S.E, M.Si. diundang menjadi narasumber dalam webinar bersama dengan pakar gambut nasional.

Kegiatan yang berlangsung secara daring dengan tema Food Estate Di Lahan EKS PLG, Cocok atau tidak?, digelar pada belum lama ini via aplikasi zoom meeting.

Turut bersamanya, spesialis restorasi gambut WRI Eli Nur Nirmala, Direktur Yayasan Lahan Gambut I Nyoman Suryadiputra dan sekretaris badan restorasi gambut Hartono.

“Ketahanan Pangan adalah kunci keutuhan sebuah Bangsa. Menjadi kunci untuk menciptakan stabilitas Ekonomi dan Politik. Teknologi yang digunakan dalam Pertanian tanaman Pangan adalah sebuah gambaran Kemajuan sebuah Bangsa. Berhentilah berpikir bahwa bertani adalah identic dengan parang, bajak dan cangkul,” kata Rektor membuka materinya.

Rektor memaparkan, saat ini marilah berpikir mekanisasi Pertanian, dimana pertanian maju dan modern dengan petani trampil berpengetahuan sehingga menjadi petani yang sejahtera.

“Saat ini petani memiliki peran penting dalam ketahanan pangan nasional. Diera Presiden Jokowi, pemerintah menciptakan program food estate di lahan Mega Rice Project. Yakni lahan yang jaman Presiden Suharto tahun 1995 silam,” katanya.

Lanjutnya, proyek tersebut gagal dikarenakan tidak ada kajian terkait kecocokan lahan, jenis tanaman dan teknik penanaman serta pengelolaan. Oleh itu, perlu adanya kajian akademik untuk mensukseskan Foot Estate.

Katanya lagi, sesuai tema apakah food estate di lahan yang sama, akan sukses atau bakal terulang kembali gagal.

Rektor menyampaikan, bahwa UPR kini telah mengelola lahan pertanian terpadu atau disebutnya Peat Techno Park (PTP) UPR dilahan gambut. Pakar pertanian, peternakan dan perikanan yang bergelar Profesor, doktor serta mengikutsertakan mahasiswa bergelut di lahan tersebut.

“Kita sudah beberapa kali panen. Ada budidaya ikan, ternak ayam dan itik serta tanaman seperti jagung dan lainnya. Semua itu berkat kerja keras dosen, para ahli dan mahasiswa di UPR. Ini bisa menjadi contoh yang dapat digunakan,” ucapnya.

Rektor pun memiliki analisis terkait tema tersebut. Bahwa lahan yang digarap dan diprioritaskan hingga tahun 2024 (masa kepemimpinan pak Jokowi) adalah lahan yang sudah dikerjakan oleh masyarakat melalui sitsem handil dan juga yang sudah dibuka melalui P4S.

Hal ini sangat penting karena lahan yang sesuai diarea yang punya jejak bergambut adalah lahan yang telah cukup lama dibuka dan pernah digarap, dengan perbaikan tata air yang teliti.

“Mari mulai melakukan proyek ini dengan melihat kesesuaian lahan, bukan mengejar target luasan yang terbukti menjadi akar kegagalan berbagai proyek food estate. Lahan yang ditetapkan menjadi area Food Estate ini harus ditetapkan berkelanjutan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Ini vital sekali untuk memastikan bahwa proyek atau investasi yang besar untuk irigasi dan pencetakan sawah juga SDM, tidak menjadi sia-sia karena adanya alih fungsi lahan,” katanya mendukung proyek tersebut.

Ada beberapa saran yang disampaikan Rektor, bahwa pemerintah harus membuka Komunikasi dan Sosialisasi dengan semua stakeholder. Baik kepada Masyarakat dan Investor, BUMN mitra.

“Hanya cerita sukses yang dapat menjawab keraguan, kritik dan penolakan. Oleh karena itu marilah memulai kegiatan ini dengan melihat lahannya, bukan dengan melihat angka target luasan atau angka target produksi. Mari merencanakan berbasis scientific lahan, bukan berbasis angka akuntansi dan angka nilai proyek yang dihasilkan dari target luasa,ln,” demikian katanya. (Rul)

Berita Terkait