Aliansi Pemuda Peduli Kesetaraan Gelar Aksi Damai

Aliansi Pemuda Peduli Kesetaraan menyerahkan surat aspirasi kepada DPRD Kalteng yang diterima langsung Sekretaris DPRD Kalteng, Tantan, Selasa (23/4/2019).

PALANGKA RAYA – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pemuda Peduli Kesetaraan, melakukan aksi damai dalam rangka memperingati Hari Kartini. Pemuda dan pemudi itu merupakan gabungan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh fakultas dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Palangka Raya (UPR).

Presiden BEM UPR Karuna Mardiansyah kepada uprjayaraya.com, Rabu (24/4/2019), mengatakan, aksi damai Pemuda Peduli Kesetaraan itu dilaksanakan pada Selasa (23/4/2019), dengan mendatangi sejumlah gedung pemerintahan dan DPRD Kalteng.

Sejarah panjang yang dilakukan Ibu RA Kartini mampu membawa perubahan besar di Indonesia. Perjuangannya itu, dimulai sejak Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan
pada masa itu.

Kala itu, perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan. Kondisi tersebut dirasakan langsung RA Kartini, ketika tidak diperbolehkan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi oleh ayahnya sendiri.

“Api tersebut semakin besar, ketika ia membandingkan antara perempuan Eropa dengan perempuan pribumi. Karena perempuan Eropa waktu itu, lebih maju daripada perempuan pribumi yang berada pada strata sosial yang cukup rendah,” jelasnya.

Oleh sebab itu, lanjut Karuna, perjuangan Kartini agar dapat mengenyam pendidikan bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Sebab, dia tidak bebas keluar rumah, atau hanya diperbolehkan tinggal di rumah.

Menurutnya, saat ini seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari masih ada ketidakadilan terhadap perempuan. Ketidakadilan itu ditandai dengan banyaknya kasus yang masih terjadi, seperti pelecehan seksual, dan juga pemerkosaan yang baru terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat.

“Melalui aksi yang kami lakukan kemarin, kami menuntut agar Eksekutif dan Legislatif segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seks (RUU-PKS), kesetaraan gender, stop bullying dan body shaming, pendidikan demokrasi bagi perempuan, serta stop budaya patriarki,” sebutnya. (il/red)

Berita Terkait