Dua Proposal Besar Disiapkan untuk Pengembangan UPR

Prof Dr Sulmin Gumiri MSc

PALANGKA RAYA – Universitas Palangka Raya (UPR) sebagai kampus tertua dan terbesar di Kalimantan Tengah (Kalteng), ternyata selama ini menyembunyikan semua kekurangannya.

Hal itu tampak saat tim dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) turun langsung ke UPR menyahuti laporan Rektor Dr Andrie Elia SE MSi.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UPR, Prof Dr Sulmin Gumiri MSc, kepada uprjayaraya.com, Selasa (26/3/2019), menuturkan, saat ini UPR telah membuat dua proposal besar, yakni proposal untuk sarana dan prasarana (sarpras) yang dibiayai dengan dana dalam negeri, serta proposal yang didanai dengan pendanaan luar negeri.

“Kita sudah ajukan proposalnya, dan biasanya proposal itu akan diverifikasi. Umtuk itu, kita siapkan presentasi yang akan disampaikan dalam bulan bulan ini juga,” tandasnya

Prof Sulmin menerangkan, UPR sudah cukup tua dan memiliki potensi yang luar biasa. Selain itu, juga memiliki kekhasan wilayah yang luar biasa, serta memiliki mitra kerja sama di luar negeri.

Bahkan di tingkat nasional, UPR menjadi salah satu yang terbaik. Namun tanpa disadari, selama ini pengelolaan di UPR tidak terlalu sejalan dengan apa yang diharapkan Kemenristek Dikti.

“Maka terjadilah dengan apa yang kita sebut paradoks. Artinya, universitas ini punya potensi, punya SDM yang bagus. Tetapi universitas ini, ternyata tidak berkembang sebagaimana seharusnya,” ujarnya.

Sulmin menggambarkan, indikator yang paling mudah dilihat sekarang adalah infrastruktur maupun sarana dan prasarana. Bahkan setelah melakukan peninjauan langsung, pihak kementerian juga terkejut. Karena ternyata UPR dapat dikategorikan “hampir lumpuh” dari sisi sarpras.

Menurutnya, persoalan itu akibat dinamika masa lalu UPR yang dianggap tidak ada yang salah, tetapi luput dari perhatian kementerian. Pasalnya, kementerian hanya akan memberikan perhatian jika UPR yang jemput bola untuk menyampaikan kendala dalam mengembangkan universitas.

“Setelah menyadari itu, sekarang kementerian memberikan peluang, karena Pak Rektor aktif menjemput bola dan menceritakan yang sebenarnya. Selanjutnya kementerian melakukan peninjauan, dan diketahui infrastruktur kita sangat memerlukan perbaikan dan pengadaan baru. Maka kita diminta menyusun proposal,” pungkas Prof Sulmin. (il/red)

Berita Terkait