IPK Paramater Keberhasilan Dosen Mendidik Mahasiswa

Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi, secara simbolis menyerahkan dokumen SPMI kepada peserta Diseminasi SPMI, salah satunya diwakili Dekan Fakultas Teknik Ir Waluyo Nuswantoro MT, Senin (15/4/2019).

PALANGKA RAYA – Indeks Prestasi Komulatif (IPK) merupakan parameter keberhasilan bagi semua dosen dalam mendidik mahasiswa. Sebab dengan IPK yang memuaskan, yakni di atas 3 atau bahkan 4, akan memudahkan mahasiswa mencari pekerjaan seusai menempuh pendidikan.

Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi dalam arahannya pada kegiatan Diseminasi Dokumen Sistem Penjamin Mutu Internal (SPMI), di Aula Rahan, Rektorat UPR, Senin (15/4/2019), kembali mewanti-wanti para dosen agar meningkatkan IPK mahasiswa. Karena IPK merupakan parameter keberhasilan dalam mendidik mahasiswa.

“IPK mahasiswa di UPR ini, komponen terbesar masih di bawah 3. Saya sangat heran, dari setiap fakultas hanya satu jurusan saja yang mahasiswanya memiliki IPK 4, yakni Prodi Bahasa Inggris. Yang lainnya, belum mampu mencapai IPK 4 itu,” ungkap Rektor.

Bahkan, lanjutnya, dari ribuan mahasiswa yang berkuliah di UPR, hanya dua orang yang memiliki IPK 4.

“Ke depan minimal setiap fakultas wajib memiliki mahasiswa yang br-IPK 4,” tandasnya.

Ketua Harian DAD Kalteng itu berpendapat, keberhasilan mahasiswa meraih IPK 4, mencerminkan mutu dan kualitas pembelajaran di UPR. Selain itu, jika IPK di atas 3, maka mahasiswa dapat mengambil 24 SKS, atau dapat lulus kurang dari 8 semester atau sekitar 3,5 tahun.

Sementara jika IPK di bawah 3, lanjutnya, maka mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat mengambil 24 SKS. Dan jika diluluskan, nantinya akan sulit mencari pekerjaan.

“Oleh karena itu, kepada semua dekan, tolong sampaikan kepada dosen, jangan bangga menjadi “Dosen Killer”. Karena mahasiswa ini anak kita di kampus, supaya dia bermutu dan memiliki daya saing yang tinggi,”tegas Andrie Elia, seperti yang disampaikan pada beberapa pertemuan sebelumnya.

Dosen harus bangga jika mahasiswanya lebih bermutu dari dosen. Namun sebaliknya, jika mutu mahasiswa rendah, berarti dosennya dinilai tidak mampu mentransfer ilmu pengetahuan yang dimilikinya. (il/red)

Berita Terkait