Kurikulum Perguruan Tinggi Dituntut Berbasis Revolusi Industri 4.0

Prof Ir Hendrawan Soetanto M Rur Sc PhD saat menjadi narasumber dalam Bimtek Penyusunan Kurikulum dan RPS Berbasis Revolusi Industri 4.0 di Aula Rahan Rektorat Universitas Palangka Raya, Kamis (27/6/2019).

PALANGKA RAYA – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebenarnya sejak tahun 2015 sudah meminta agar kurikulum perguruan tinggi du Indonesia berbasis kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Namun demikian, dalam era sekarang ini Kemenristekdikti ingin agar kurikulum tersebut juga berbasis Revolusi Industri 4.0.

Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Pendidikan Universitas Palangka Raya (LP3MP UPR), Dr Ir Berkat MSi, keinginan Kemenristekdikti tersebut sudah tepat. Karena bagaimanapun juga kita tidak mungkin menghindari industri digital.

“Sehingga diharapkan ada metode-metode pembelajaran yang bisa diajarkan secara online. Karena kurikulum diharapkan selalu berkembang menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” jelas Berkat yang ditemui usai kegiatan Bimtek Penyusunan Kurikulum dan RPS Berbasis Revolusi Industri 4.0 di Aula Rahan Rektorat Universitas Palangka Raya, Kamis (27/6/2019).

Karena itulah, lanjutnya, Kemenristekdikti saat ini menuntut dua hal itu, yakni kurikulum perguruan tinggi berbasis KKNI dan Revolusi Industri 4.0.

Terkait hal ini, kata Berkat, maka kurikulum perguruan tinggi harus mempunyai target-target ke depan, di antaranya sejauhmana kita bisa mengaplikasikan era digital itu dalam konteks pembelajaran.

Sementara itu, Ketua Panitia Bimtek Penyusunan Kurikulum dan RPS Berbasis Revolusi Industri 4.0, Drs Janu Pinardi MSi menjelaskan, kegiatan bimtek tersebut sebagai upaya merekonstruksi kurikulum di lingkungan UPR. Sehingga semua jajaran di UPR memiliki pedoman sama. Di antaranya memuat kurikulum inti, kurikulum universitas dan kurikulum program studi yang berbasis KKNI dan Revolusi Industri 4.0.

“Bimtek ini dilaksanakan oleh LP3MP Universitas Palangka Raya bekerja sama dengan Belmawa, dengan peserta sebanyak 120 orang, yang kesemuanya berasal dari lingkungan Universitas Palangka Raya,” jelas Janu Pinardi.(mz/red)

Berita Terkait