Pemerintah Harus Memperhatikan Pembentukan Karakter Generasi Muda

Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi bersama Ketua KNPI Kalteng Rahmat Handoko dan Wakil Ketua PWI Kalteng M Zainal dalam Dialog Interaktif yang dipandu Host Kabid Siaran LPP RRI Palangka Raya Aser Rihi Tugu, Selasa (10/9/2019).

PALANGKA RAYA – Di Universitas Palangka Raya (UPR) kini sudah ada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (Prodi PAUD), dan ada juga Prodi Sendratasik (Seni Drama, Tari dan Musik). Prodi ini bertujuan untuk mencetak guru-guru yang profesional di bidangnya pada berbagai tingkatan yakni PAUD, SD, SMP dan SMA. Karena itu, Pemerintah Daerah harus punya kepedulian dan perhatian terhadap hal itu, dengan memberikan formasi kerja dari mulai guru PAUD. Karena di PAUD inilah merupakan titik awal mencetak generasi emas bangsa ini ke depan.

Harapan itu disampaikan Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi pada Dialog Interaktif bertema “Untuk Indonesia yang Lebih Bertoleransi” di Studio Pro 1 RRI Palangka Raya, Selasa (10/9/2019).

“Pemerintah Daerah harus memperjuangkan pendirian PAUD ini, minimal satu desa satu PAUD. Perhatian dimaksud bisa dilakukan dengan cara mengalokasikan dalam anggaran dana desa,” kata Andrie Elia dalam dialog interaktif yang juga menghadirkan narasumber Ketua DPD KNPI Kalteng Rahmat Handoko dan Wakil Ketua PWI Kalteng M Zainal.

Dalam dialog yang dipandu Host Kabid Siaran LPP RRI Palangka Raya, Aser Rihi Tugu ini, Rektor UPR mengakui bahwa intelektual generasi muda umumnya berada di mahasiswa dan kalangan pendidik (dosen). Namun mereka juga rentan masuknya pola-pola pikir yang mengarah ke radikalisme, karena pengaruh global yang masuk dari sejak mereka berusia muda.

Menurut Rektor, salah satu solusi untuk menangkal masuknya paham radikalisme, harus diciptakan pembentukan karakter secara berjenjang melalui pendidikan. Nantinya ketika mereka sampai ke perguruan tinggi, pendidikan tersebut harus terus ada. Seperti di jenjang S1 ada Pendidikan Pancasila dan Kewiraan. Kemudian di jenjang S2 dan S3 ada Ilmu Filsafat dan lain-lain yang bisa kita masuki konten kurikulumnya.

“Karena itu, tatanan pendidikannya harus dilakukan dari sejak dini di PAUD dan jangan sampai putus. Kalau tiba-tiba masuk di tingkatan menengah saja, maka berarti ada mata rantainya yang terputus,” terang Andrie Elia.(mz/red)

Berita Terkait