Pemuda Dayak Pantang Menyerah

Andrie Elia: Teruslah Berjuang Raih Kesuksesan

Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MS (batik merah) usai menyerahkan cinderamata kepada pihak terkait dalam Workshop Global Youth and The Meaning of Succes di Aula Sangkuwung, Palangka Raya, Sabtu (14/9/2019).

PALANGKA RAYA – Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Dr Andrie Elia SE MSi berharap agar generasi muda Dayak mulai sekarang dapat mempersiapkan diri untuk sukses, dan tidak takut dengan perkembangan globalisasi. Generasi muda Dayak harus mampu mempengaruhi tempat-tempat lain dengan hal-hal yang luar biasa dan positif hingga mampu mempengaruhi dunia.

“Pemuda Kalteng harus berani dan aktif untuk berkontribusi menciptakan solusi melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi,” harap Andrie Elia di Palangka Raya, Sabtu (14/9/2019).

Saat ini, tambahnya, pemuda sering menjadi pengikut, misalnya ikut-ikutan gaya trend Korea, ala K-Pop atau ala Jepang. Semestinya anak muda Kalteng mulai sekarang harus bisa independen. Namun kebanyakan yang terjadi sekarang ini anak muda menjadi followers dan groupies. Padahal yang diharapkan sekarang, adalah anak muda yang berani sebagai trend setter dan pelopor perubahan.

Isen Mulang. Itu semboyan khas suku Dayak Kalimantan Tengah. Artinya, pantang menyerah, pantang pulang tanpa membawa hasil apabila tujuan belum tercapai,” tegas Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalteng ini.

Dalam istilah atau peribahasa suku Dayak, ada beberapa yang patut dijadikan pegangan dalam kehidupan bermasyarakat. Peribahasa itu mengandung makna nasehat, dan juga peringatan untuk bagaimana warga Dayak menjalani hidup agar sukses, baik di tanah kelahirannya sendiri maupun di tempat baru atau di tempat perantauan.

Peribahasa tersebut di antaranya “Jatun Ati Tanduk Bajang Panjang Amun Iye Dia Tau Haragu” (tidak ada tanduk kijang yang panjang jika dia tidak memeliharanya). Artinya, tidak ada keberhasilan bila tidak dapat mengatasi kesulitan.

“Etika dan budaya sukses di sini adalah bahwa seseorang harus tabah, sabar, tidak mudah menyerah saat ada kesulitan. Karena setiap masalah pasti ada akhirnya, dan orang yang sabar, tekun, tidak pernah menyerah, pasti akan menuai sukses pada akhirnya,” terang Andrie Elia.

Kemudian, lanjutnya, ada peribahasa “Mamut Menteng Ureh Mameh“. Ini berarti bahwa orang Dayak itu gagah perkasa, selalu ceria. Bahkan seperti bisa orang bodoh karena ketulusan hatinya. Contoh kasus, dalam menyelesaikan suatu permasalahan, pada umumnya orang Dayak selalu berusaha mengalah dengan cara menghindar. Bahkan mundur selangkah, mengalah lagi, menghindar lagi, mundur lagi. Namun karena sudah mengalah dan mundur berulang-ulang, akhirnya terpaksa bertahan. Apa boleh buat, maju kena mundur kena. Maka memilih maju dan menyerang. Karena titik jenuh sudah dicapai dan hati terluka, membuat emosi sulit dikendalikan.

Tokoh Dayak Kalteng ini memaparkan kiat hidup dan tata krama suku Dayak di hadapan sekitar 1.500 peserta Workshop Global Youth and The Meaning of Succes di Aula Sangkuwung, Palangka Raya, Sabtu (14/9/2019).

Dikatakan, membangun etika dan budaya sukses dari perspektif adat Dayak, adakah dengan mempelajari peribahasa bijak yang membangun, pelajari tata krama dan hukum adat yang ada. Tanamkan dalam pikiran, kemudian praktekkan.

“Jangan pernah menyerah. Selalu lakukan hal yang baik, memikirkan hal yang baik, dan mengerjakan yang baik. Ingatlah selalu, Isen Mulang, … Isen Mulang, … Isen Mulang,” tegas Andrie Elia.(mz/red)

 

Berita Terkait