Tayangan Sinetron dan Iklan Paling Banyak Mendapat Teguran

Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi saat menjadi narasumber pada Literasi Media, bertempat di Aula Rahan, lantai 2, Rektorat UPR, Rabu (11/9/2019).

PALANGKA RAYA – Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Dr Andrie Elia SE MSi menjelaskan, bahwa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bertugas menjamin terselenggaranya sistem penyiaran yang sehat dan berkualitas. Sejauh ini walaupun belum optimal, KPI telah menunjukkan perannya dalam menata sistem penyiaran Indonesia. Sedangkan tugas KPI adalah melakukan pemantauan terhadap seluruh program siaran dari seluruh stasiun televisi yang ada. KPI juga dapat memberikan peringatan dan teguran terhadap stasiun televisi yang menyiarkan program siaran yang dinilai bermasalah dan melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS).

“Dari penelitian, tayangan sinetron dan iklan merupakan jenis program yang paling banyak mendapat teguran. Kekerasan dan sadisme merupakan jenis pelanggaran tertinggi yang diikuti oleh seksualitas dan pelanggaran terhadap kepentingan publik,” kata Rektor UPR dalam paparannya pada Ekspose Hasil Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Periode 1 Palangka Raya, bertempat di Aula Rahan, lantai 2. Rektorat UPR, Rabu (11/9/2019).

Diungkapkan, beberapa program televisi bermasalah, menunjukkan bahwa tayangan yang sehat dan layak dikonsumsi publik, belum sepenuhnya hadir dalam televisi Indonesia. Kesadaran pemilik dan pekerja media untuk mengedepankan tanggung jawab sosial media dalam menghadirkan tayangan sehat bagi masyarakat, sangat diharapkan.

Untuk itu, peran pemerintah, Perguruan Tinggi dan KPI yang lebih optimal untuk mengawal penyiaran ke arah yang lebih baik, juga sangat menentukan. Demikian juga dengan peran serta masyarakat melalui kesadaran bermedia (media literacy) yang semakin meningkat, tidak boleh diabaikan.

Pada acara yang dihadiri lebih dari 200 orang peserta ini, dipaparkan Rektor, bahwa Perguruan Tinggi khususnya UPR, berperan menyelenggarakan bimbingan teknis pengelolaan penyiaran bagi lembaga penyiaran dan civitas akademika di lingkungan UPR.

Menyiapkan sumber daya manusia (SDM) penyiaran melalui penelusuran minat bakat yang terintegrasi dengan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dan Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (Opmawa) di lingkungan UPR, serta menyelenggarakan pendidikan sadar media di seluruh program studi.

“UPR juga melaksanakan penelitian berkesinambungan terkait dengan dampak penyiaran bagi masyarakat. Melakukan kajian terhadap konten program siaran lokal di televisi dan radio, serta mengadakan survey indeks kualitas program siaran televisi dan radio,” ungkapnya.

Diingatkan pula bahwa Civitas Akademika UPR di masyarakat berperan serta dalam pengawasan program siaran. Karena itu, UPR dapat mengajukan keberatan terhadap program siaran yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan bermasyarakat.

“Civitas Akademika UPR juga dapat mengajukan keberatan secara tertulis ke KPID terkait dengan tayangan televisi,” jelas Andrie Elia.(mz/red)

 

Berita Terkait