Tim UPR Mulai Bergerak Meneliti Bajakah

Ketua Tim Peneliti Bajakah UPR Dr Ir Aswin Usup MSi, memimpin rapat dengan tim peneliti dari Fakultas Kedokteran UPR, Kamis (22/8/2019).

PALANGKA RAYA – Pasca viralnya keberadaan Kayu Bajakah yang disebut bisa mengobati penyakit Kanker Payudara, serta Menindaklanjuti Instruksi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Tim Peneliti Universitas Palangka Raya (UPR) mulai bergerak melakukan penelitian.

Ketua Tim Peneliti Kayu Bajakah Dr Ir Aswin Usup MSi, disela rapat dengan tim peneliti dari Fakulras Kedokteran UPR, Kamis (22/8/2019), menjelaskan, pembentukan Tim Peneliti tersebut berdasarkan petunjuk dari Rektor UPR Dr Andrie Elia SE MSi. Tim sendiri, terdiri dari LPPM, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, dan Fakuktas MIPA UPR.

“UPR sudah membentuk tim, dan akan melakukan riset untuk menjawab tantangan atau permasalahan tentang Bajakah yang viral di masyarakat. Dalam melakukan riset itu ada lima tahapan yang akan dilakukan tim peneliti, agar kandungan Bajakah nantinya dapat dipatenkan menjadi obat untuk menyembuhkan Kanker Payudara,” ujarnya.

Aswin berpendapat, bagi masyarakat Kalteng sebenarnya keberadaan Bajakah sebagai obat tradisional sudah tidak asing lagi. Namun melalui kesempatan viralnya Bajakah, UPR melakukan penelitian untuk mengetahui apa saja komposisi yang dikandung dalam Bajakah guna mematikan sel-sel kanker.

Tidak itu saja, selain meneliti kandungan yang ada dalam Bajakah, tim nantinya juga akan meneliti apakah tumbuhan Bajakah bisa dibudidayakan atau tidak. Sebab selama ini, diketahui Bajakah tumbuh liar di hutan Kalteng.

Di sisi lain dengan viralnya Bajakah, dikhawatirkan tumbuhan yang disebut mampu membunuh sel-sel kanker ini menjadi langka, atau bahkan habis dari hutan Kalimantan.

“Akan tetapi kalau dari hasil penelitian lebih lanjut nanti dinyatakan bahwa di dalam Bajakah terdapat unsur yang mampu membunuh kanker, maka memang proses budidaya perlu dilakukan. Tentu budidaya yang dilakukan, tetap di lahan yang layak ditumbuhi Bajakah itu sendiri atau sesuai dengan habitatnya,” tukas Aswin.

“Untuk penelitian tahap I, akan dilakukan di awal September 2019. Sehingga dalam jangka waktu dua bulan atau akhir 2019 mendatang, paling tidak dapat sedikit menjawab rasa penasaran tentang kandungan Bajakah,” tutup Ketua LPPM UPR ini. (il/red)

 

Berita Terkait