KISAH INSPIRATIF Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang Bersekolah Tinggi

Ilustrasi

TIDAK semua orang mampu mendapat gelar pendidikan sarjana dan bisa berkesempatan mendapat pekerjaan yang diimpikan. Meski begitu, dua orang alumni Universitas Palangka Raya (UPR) ini mendapat keberuntungan untuk bisa meraih cita-citanya dan perjuangannya cukup menakjubkan. Gelar sarjana yang diraih mereka tidak selalu berjalan mulus. Adanya perjalanan yang berliku, berbatu, berduri demi pendidikan tinggi.

Keterbatasan ekonomi adalah hal yang sama-sama dimiliki oleh dua lulusan UPR ini. Simak saja kisah mereka.

 

Satu-satunya anak Desa Tumbang Topus yang bisa berkuliah

Seorang gadis desa kelahiran 8 Agustus 1992 asal Desa Tumbang Topus, Kecamatan Uut Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, sejak lama bercita-cita untuk memajukan kualitas pendidikan di kampungnya.

Namanya Tia, anak bungsu dari pasangan Acing dan Ici ini menjadi satu-satunya remaja di desanya yang berhasil menembus pendidikan ke perguruan tinggi. Tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua orang tua Tia, karena putri bungsunya sekarang sudah jadi sarjana dan turut membanggakan tanah kelahirannya.

Perjalanan Tia sampai bisa mendapat gelar sarjana tidaklah mudah. Lantaran kondisi kehidupan keluarganya yang sulit, dan jarak tempuh yang jauh dari desa tempatnya menetap. Untuk bisa sampai ke Universitas Palangka Raya membutuhkan waktu tempuh 5 sampai 7 hari perjalanan menggunakan perahu motor agar bisa sampai ke kawasan Puruk Cahu. Dari situ pun masih harus melanjutkan lagi perjalanan agar sampai ke Palangka Raya. Meski jauh dari keramaian dan pusat kota, itu semua bukanlah penghalang yang menyurutkan impiannya untuk menggapai di masa depan yang cerah.

Lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP UPR) ini meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.46. Tia bertekad untuk memutuskan kembali ke desanya dan mendidik generasi Tumbang Topus yang tertinggal. Impian ini merupakan keinginan dan harapan terbesarnya untuk mendedikasikan diri sebagai seorang guru dan membuktikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Murung Raya bahwa salah satu putri daerahnya masih ada yang ingin memajukan desa dari ketertinggalan dunia pendidikan.

Tia berharap, semoga niat mulianya ini bisa didengar dan terealisasikan oleh Pemerintah setempat.

 

Cumlauder yang bercita-cita menjadi seorang pendidik

Setelah kisah inspiratif dari Tia, selanjutnya ada Sri Lasmiati yang turut membanggakan kedua orangtuanya juga almamaternya dengan predikat Cumlaude yang dia raih.

Sri Lasmiati, yang merupakan putri pertama pasangan Wiyatma dan Jumiati, adalah peraih predikat Cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.88, masa studi empat tahun pada program studi Pendididkan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di bawah naungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPR.

Keberhasilan yang diraih Sri Lasmiati ini pun tidak mudah dan penuh perjuangan yang gigih. Gadis kelahiran Palangka Raya  27 Oktober 1994 ini memulai masa studinya di UPR pada 2012 lalu lewat jalur undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Ia menerima program beasiswa penuh Bidikmisi selama masa studi.

Sri Lasmiati terlahir bukan dari keluarga berada. Sang ayah berprofesi sebagai pembelah batu di Bukit Tangkiling, dan ibunya adalah seorang baby sitter Orang Utan di Arboretum Nyaru Menteng Kalimantan Tengah. Namun hal itu tidak membuatnya berhenti berusaha memberikan yang terbaik. Bagi Sri, hidup pas-pasan bukan menjadi penghalang, tapi menjadikannya motivasi.

Kini Sri Lasmiati patut berbangga karena dapat menyelesaikan studi di universitas, berkontribusi sebagai murid yang berprestasi dan berhasil mendapat gelar sarjana. Menjadi seorang guru merupakan cita-cita yang Sri mimpikan sejak dulu. Setelah lulus, Sri ingin mendedikasikan ilmu yang dimilikinya untuk dunia pendidikan. Supaya bisa mendidik generasi bangsa, teruntuk bagi mereka yang kekurangan, patut diperhatikan dan mendapat hak pendidikan tinggi juga layak seperti dirinya.(dikutip dari www.upr.ac.id/mz/redaksi)

Berita Terkait