Puluhan Wartawan Diberikan Bekal Pemahaman Media Cyber

Ketua PWI Kalteng Sutransyah memberikan cinderamata kepada Kabid Pendidikan PWI Pusat Nurjaman Mochtar pada Workshop Media Cyber PWI Kalteng di Palangka Raya, Sabtu (15/6/2019).

PALANGKA RAYA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalteng terus berupaya meningkatkan sumber daya manusia insan pers media cyber lokal tentang wawasan dan keterampilan di dunia cyber. Harapannya, insan pers media cyber dapat memahami tata laksana dan pola redaksional media cyber yang benar untuk diaplikasikan di medianya.

Menurut Ketua PWI Kalteng, H Sutransyah, kemajuan teknologi dan kemudahan mengakses internet, efisiensi pola hidup dewasa ini telah menyebabkan perubahan paradigma media massa dari konvensional ke media cyber.

“Ini telah menjadi realita yang saat ini kita hadapi dan jalani. Banyak yang berubah menjadi online. Banyak media cetak yang beralih ke media online. Bahkan hampir semua media televisi, radio dan lainnya yang berbasis elektronik membuka kanal berita online,” jelas Sutransyah dalam sambutannya pada Workshop Media Cyber PWI Kalteng di Palangka Raya, Sabtu (15/6/2019).

Perubahan itu otomatis diikuti pula oleh banyak insan pers yang berlatarbelakang media cetak dan elektronik. Sayangnya, perpindahan itu tidak diikuti dengan penambahan wawasan sang insan pers tentang media cyber. Padahal tata laksana, karakteristik redaksional dan aturan-aturan media cyber berbeda dengan media konvensional.

“Karena itu, kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya memberikan bekal kepada insan pers media cyber, agar paham tatalaksana dan pola kerja, serta menerapkan rambu-rambu media cyber. Sehingga kesalahan-kesalahan yang berbuntut tuntutan hukum, atau bahkan dampak keresahan di masyarakat, bisa kita hindari,” kata Sutransyah pada acara yang dihadiri Kabid Pendidikan PWI Pusat Nurjaman Mochtar dan puluhan wartawan media cyber dan media konvensional.

Menurutnya, banyak contoh kasus media cyber yang akhirnya harus berhadapan dengan proses hukum. Ini akibat produk pemberitaan media online tersebut yang kurang sempurna. Selain itu, masalah hoaks atau kabar palsu menjadi momok yang paling rentan dalam media cyber.(mz/red)

Berita Terkait