DAD Kalteng Sudah Susun 14 Buku Muatan Lokal

Penyebarannya Masih Menunggu Perhatian Pemda

Dr Andrie Elia SE MSi

 

PALANGKA RAYA – Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sebenarnya sudah menyusun dan mencetak sebanyak 14 buku yang berisi kurikulum pendidikan muatan lokal. Buku-buku itu dimaksudkan sebagai media pembelajaran guna melestarikan budaya dan adat istiadat suku Dayak di Bumi Tambun Bungai ini. Sebanyak 14 buku itu sudah disusum sebagai kurikulum pembelajaran mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai kelas 12 (kelas 3 SMA).

Sayangnya, niat baik dan mulia itu belum ada perhatian dari Pemerintah Provinsi Kalteng melalui instansi terkait. Sehingga penyebarannya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Hal ini terungkap dalam Dialog Interaksi bertema “Untuk Indonesia yang Lebih Bertoleransi” dengan narasumber Ketua Harian DAD Kalteng Dr Andrie Elia SE MSi dipandu Host Kabid Siaran LPP RRI Palangka Raya Aser Rihi Tugu, di Studio Pro 1 RRI Palangka Raya, Selasa (10/9/2019).

“Kita sudah mencetak buku-buku muatan lokal yang berwawasan kebangsaan itu, tapi sampai sekarang masih belum mendapat perhatian Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah. Padahal ini adalah inisiatif para pemerhati budaya di daerah kita, termasuk saya sebagai salah seorang editornya. Semestinya harus didukung oleh pemerintah terutama yang membidangi tentang pendidikan,” kata Andrie Elia dalam acara yang juga menghadirkan narasumber Ketua DPD KNPI Kalteng Rahmat Handoko dan Wakil Ketua PWI Kalteng M Zainal.

Sekarang ini, kata Andrie Elia, memang ada buku-buku untuk PAUD. Tetapi isinya terlalu luas. Semestinya, konten-konten dalam buku PAUD itu, fokus kepada budaya dan norma yang mendukung kebersamaan. Itu yang harus diajarkan dan dimasukkan ke dalam pola pikir peserta didik, untuk menangkal masuknya informasi global yang bersifat negatif, berita hoax, provokasi dan konten-konten negatif lainnya.

“Artinya, dari sejak PAUD, anak-anak ini sudah terbentengi sejak dini,” tegas Andrie Elia yang juga menjabat Rektor Universitas Palangka Raya.

Dikatakan, pendidikan karakter memang semestinya harus dimulai dari PAUD. Di dalamnya sudah masuk unsur budaya, norma kehidupan di dalam rumah tangga, perilaku anak dalam bergaul dan berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai suku, dan itu semua harus sudah masuk dalam konten kearifan lokal sebagaimana budaya Huma Betang. Karena budaya Huma Betang itu akan menimbulkan keterbukaan, kebersamaan, kesetaraan dan kejujuran.

“Empat pilar itu harus masuk dalam kurikulum sejak PAUD dan seterusnya di setiap jenjang pendidikan,” imbuhnya.

Andrie Elia juga mengungkapkan rasa kekhawatiran akan semakin lunturnya nilai-nilai budaya dan norma-norma luhur yang diwariskan secara turun temurun oleh para pendahulu suku Dayak. Keadaan ini harus segera disikapi oleh Pemda Kalteng, salah satunya dengan mendukung dan membantu penyebaran 14 buku berisi muatan lokal Kalteng tersebut ke semua tingkatan pendidikan formal di daerah ini.(mz/red)

Berita Terkait