Ritual Tahunan Sarana Promosi Budaya Dayak

Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalteng yang juga Rektor Universitas Palangka Raya DR Andrie Elia Embang SE MSi, memberikan sambutan dalam ritual adat Ma’mapas Lewu, Ma’arak Sahur Palus Manggantung Sahur, Minggu (30/12/2018), di Betang Eka Hapakat Palangka Raya.

PALANGKA RAYA – Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Tengah, Minggu (30/12/2018), menggelar rituan adat Ma’mapas Lewu, Ma’arak Sahur Palus Manggantung Sahur. Agenda itu, rutin digelar setiap akhir tahun, sebagai ritual adat untuk membersihkan kampuang, atau sebuah wilayah dari hal yang negatif.

Ketua Harian DAD Kalteng DR Andrie Elia Embang SE MSi mengungkapkan, agenda Ma’mapas Lewu, Ma’arak Sahur Palus Manggantung Sahur dalam bahasa Dayak Ngaju Ma’mapas lewu mengandung pengertian membersihkan wilayah atau daerah dari pengeruh-pengaruh atau perbuatan jahat atau buruk, baik yang dilakukan oleh manusia maupun oleh roh jahat (gaib) terhadap kehidupan.

“Ritual ini agenda tahunan. Kita bisa manfaatkan sebagai sarana mempromisikan budaya dayak,” ungkap Andrie.

Ritual Ma’mapas Lewu, Ma’arak Sahur Palus Manggantung Sahur digelar di Betang Eka Hapakat Jalan RTA Milono Palangka Raya. Ritual dimulai pukul 14.00 WIB, sarana mempertahankan budaya, dan kearifan lokal masyarakat Kalteng.

DAD, jelas Rektor Universitas Palangka Raya itu, secara berkelanjutan mengagendakan berbagai kegiatan budaya. Hal itu tiada lain, untuk menjaga, dan melestarikan budaya peninggalan para leluhur. Masyarakat Kalteng mempunyai budaya yang unik, sebagai daya tarik wisatawan.

“Kita punya budaya yang bisa dimanfaatkan, sebagai daya tarik wisatawan. Jadi ritual adat seperti ini, memang harus dilestarikan. Itu sebagai bentuk penghormatan kepada lelulur, dan bisa menjadi daya tarik wisata,” tegas Andrie.(redaksi)

Berita Terkait