LP3MP UPR Dorong Perajin Tangan Ajukan HAKI

Sosialisasi dan Pendampingan pendaftaran HAKI yang digelar LP3MP Universitas Palangka Raya, beberapa waktu lalu.

PALANGKA RAYA – Lembaga Pengembangan, Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LP3MP), Universitas Palangka Raya mendorong perajin tangan di Provinsi Kalimantan Tengah mendaftarkan hasil karyanya untuk mendapatkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Perlu disadarkan bahwa hak kekayaan intelektual di era global itu penting. Karena kalau tidak di menyadari itu, bisa saja temuan kita diakui oleh pihak lain,” kataKepala LP3MP, UPR Dr Berkat M.Si, kemarin.

Untuk mendapatkan sertifikat HAKI tersebut, kata Berkat, perajin bisa mengusulkan langsung ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

“Kebanyakan orang berpendapat bahwa mengajukan usulan untuk mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual itu sulit, padahal bisa melalui online,” ujarnya.

Menurutnya, sertifikat HAKI merupakan harta berharga dalam dunia yang penuh dengan industri kreatif di era milenial seperti sekarang. Hasil kerajinan yang dapat didaftarkan beragam, misalnya kopi, bunga hias dan lain sebagainya.

Syarat Karya Intelektual Yang Dapat Sertifikat HAKI

Kategori karya dan penemuan dapat dipatenkan berdasarkan karakteristik tertentu. Dengan kata lain, tidak semua hasil penemuan bisa dipatenkan. Karya atau penemuan yang dapat di patenkan harus memenuhi syarat secara substantif.

Secara substantif dibagi menjadi beberapa hal sebagai berikut, pertama bersifat baru. Hasil karya intelektual belum pernah dipublikasikan terlebih dahulu. Baik di publikasikan di media apapun. Adapun langkah yang harus segera di urus agar memperoleh hak paten, dengan mengajukan permohonan. Setelah mengajukan permohonan, akan memperoleh tanggal penerimaan. Jika karya intelektual dipublikasikan sebelum memperoleh tanggal penerimaan, maka permohonan bisa gagal.

Kedua, bersifat inventif. Prinsip memperoleh paten HAKI bersifat inventif, atau kemampuan untuk menciptakan, merancang sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada. Paten hanya diberikan pada karya intelektual hanya diberikan pada penemu yang memiliki person skilled in the art.

Ketiga bersifat aplikatif. Maksud aplikatif hasil penelitian yang ditemukan dapat dilakukan secara berulang-ulang. Dapat juga diartikan memiliki tingkat kemanfaatan bagi masyarakat. Semakin hasil penemuannya digunakan masyarakat luas, mengindikasikan bahwa penemuannya berhasil sebagai solusi atas permasalahan yang muncul. Karya intelektual memiliki syarat konsisten, tidak mudah berubah-ubah.

Karya intelektual yang bersifat kreasi estetika seperti hak cipta dan desain industri lrelatif mudah memperoleh hak paten. Termasuk penemuan metode program komputer, presentasi mengenai informasi yang ditemukan lebih mudah memperoleh ijin paten. Meskipun demikian, ada pula karya intelektual yang ternyata tidak dapat dipatenkan. Berikut karya intelektual yang tidak dapat dipatenkan.

Karya intelektual tidak menentang peraturan Hak atas Kekayaan Intelektual. Diantarannya, tidak mengumumkan karya sebelum mengajukan surat permohonan. Hasil karya intelektual tidak bertentangan dengan peraturan undang-undangan yang berlaku. Hasil karya juga tidak menentang moralitas agama, mengandung RAS dan menganggu ketertiban umum.

Karya intelektual tidak dalam praktik coba-coba. Karya intelektual bukan termasuk metode-metode dan teori. Misalnya metode pemeriksaan, pengobatan, perawatan, pembedahan dan pengobatan. Termasuk teori dan rumus matematika. Sehebat apapun rumus menyelesaikan permasalahan, tetap tidak dapat dipatenkan.(redaksi dan diambil dari berbagai sumber)

Berita Terkait