Ironi di Balik Kelezatan Coklat (selesai)

Oleh: Sjarifuddin Hamid

Pohon kakao

Minum atau makan coklat membuat perasaan riang. Tetapi kening akan berkerut bila kita mencoba memahami secara etimologi kata coklat.

Coklat berasal dari kata chocolate yang berasal dari kata cacao atau kakao. Lalu, apa yang dimaksud dengan cocoa atau kokoa?

Kakao bermakna biji yang ada dalam cangkang. Cangkang itu sendiri bentuknya seperti kacang tanah berukuran besar. Cangkang ini bergantungan di batang dan pokok pohon coklat. Ilmuwan Swedia Carl con Linne menyebut pohon coklat sebagai Theobrama cacao yang artinya makanan Tuhan karena lezatnya.

Kata cacao sendiri berasal dari bahasa Aztec. Ia kemudian menjadi kata yang diucapkan penjajah Spanyol yang menguasai beberapa bagian Amerika Selatan.

Kata cacao kini dipakai untuk merujuk kepada biji coklat yang belum banyak diproses, bahkan pohonnya pun disebut pohon cacao. Pohon cacao dapat tumbuh menjulang sampai empat meter lebih, tetapi para pekebun dengan cerdik memperpendek hingga tumbuh melebar. Pohon coklat ternyata bisa tumbuh di kawasan tropis.

Dalam bahasa Indonesia, kakao diartikan sebagai coklat. Ia merujuk pula kepada warna, selain pohon dan buah (biji).

Adapun cocoa atau kokoa berarti biji coklat yang sudah diproses menjadi bubuk. Ia digunakan sebagai bahan baku minuman atau dicampur dengan unsur-unsur lain hingga menjadi wafer, coklat batangan atau untuk dioleskan ke roti sebagai meses atau berbentuk pasta.

Perlu diketahui untuk menghasilkan satu kg pasta diperlukan 10 buah cangkang coklat yang memiliki 300-600 biji coklat. Satu pohon coklat cuma menghasilkan kira-kira 20 cangkang dalam setahun. Ironisnya, harga jual di tingkat petani rendah. Inilah mungkin yang menyebabkan upah buruh murah.

Indonesia juga memproduksi kakao. Salah satu keunggulan kakao Indonesia adalah tidak mudah meleleh. Sayangnya, konsumen jarang peduli dengan apakah kakao ini dari Indonesia atau bukan karena yang penting rasanya. Betul kan?

Asal Mula

Sesuai dengan temuan awal. Pohon coklat ditemukan pertama kali di kawasan pegunungan Andes di Amerika Selatan. Suku-suku Maya membawanya ke Amerika Tengah dan ditumbuhkan di Meksiko oleh suku Toltecs dan Aztecs.

Penjajah Spanyol membawa bibit coklat ke Eropa, kemudian ke Pilipina. Orang-orang Belanda membawanya ke Indonesia.

Pantai Gading memproduksi 1,45 juta metrik ton atau 31,6% dari produksi dunia. Disusul Ghana 844 ribu metrik ton, Indonesia sekitar 778 ribu metrik ton, Nigeria 367 ribu metrik ton, Kamerun (275 ribu), Brasil (213 ribu), Ekuador (128 ribu), Meksiko ( 82 ribu), Peru (28.500), Republik Dominika (68 ribu), Kolombia (47 ribu) dan Papua Nugini (43 ribu metrik ton). Sejumlah negara lain juga memproduksi tetapi jumlahnya kecil, ungkap FAO enam tahun lalu.

Buruh kebun kakao sedang mengumpulkan biji buah kakao setelah dijemur.

Barangkali karena berpegang pada prinsip kestabilan arus produksi dan menjaga kualitas, nama-nama besar dalam bisnis coklat terlibat dalam perkebunan. Tercatat Barry Callebaut, Cadbury (bagian dari Mondelēz International), Cargill, Ferrero, Hershey, Lindt & Sprüngli, Mars dan Mondelēz International. Sekalian perusahaan ini juga aktif dalam inovasi, riset dan pengembangan. Barry Callebaut misalnya, mampu menghasilkan lebih dari enam ribu resep.

Peran Buruh

Perkebunan-perkebunan di Ghana dan Pantai Gading umumnya berukuran kecil. Menurut Overseas Development Institute, independent think tank yang berfokus pada isyu-isyu kemanusiaan dan pembangunan internasional, perkebunan berskala kecil jauh lebih efisien dibandingkan perkebunan besar yang dikelola perusahaan-perusahaan multinasional.

Jumlah pekerja dalam perkebunan kecil itu sekitar 11 ribu buruh, mayoritas anak-anak. Total 1,5 juta buruh bekerja di perkebunan coklat di Pantai Gading, saja.

Dalam pada itu, mekanisasi sepertinya tidak berlaku dalam perkebunan coklat. Buruh naik ke pohon dan dengan sejenis pedang memisahkan cangkang dari batang. Cangkangnya ditoreh dan dibuka dengan pisau. Kemudian biji coklat dibiarkan kering sampai nanti dipermentasikan.

Pada akhirnya biji-biji coklat itu diinjak-injak dengan kaki telanjang, terkadang dicampur dengan tanah liat merah dan disemprot air sampai mendapatkan warna lebih baik, mengkilat dan terlindung dari hama selama pengapalan ke pabri-pabrik di Amerika Serikat, Inggris, Belanda dan negara-negara lain termasuk yang tidak berpantai seperti Swiss.

Perkebunan coklat memerlukan banyak buruh untuk membuka hutan, memelihara dan merawat sampai memanen, memikul hasilnya ke gudang dan mengapalkan. Dapat dipahami bila buruh perkebunan tidak mempunyai kecakapan khusus, dampaknya mereka berada tataran terendah dalam tahapan proses produksi coklat.

Buruh-buruh itu berusia muda bahkan ada yang berusia tak lebih dari 12 tahun. Mereka didatangkan dari negara-negara miskin seperti Mali atau Burkina Faso ke Pantai Gading yang memproduksi dua perlima kokoa dunia.

Kabarnya mereka merantau karena sukarela diserahkan keluarga dengan harapan dapat memperbaiki nasib. Ada pula yang diculik dan diselundupkan. Banyak di antara mereka yang tidak kembali ke negerinya.

Para buruh anak-anak bekerja dari pagi hingga malam dengan menggunakan alat-alat berbahaya seperti pedang dan gergaji. Dipukuli bila bekerja terlampau lambat atau mencoba dan melarikan diri.

Perusahaan lebih suka menggunakan buruh anak-anak karena dapat dikendalikan. Upahnya pun di bawah US$2 atau sekitar Rp30 ribu per hari. Ternyata industri kopi juga melakukan hal serupa.

Kondisi yang memprihatinkan ini menarik perhatian para politisi. Anggota Kongres Eliot Angel misalnya, mengusulkan pendanaan bagi pembuatan label ‘no child slavery‘ untuk produk-produk coklat yang di jual di Amerika Serikat. Senator Tom Harkin mengusulkan tambahan bagi RUU Pertanian agar produk-produk kokoa dan coklat yang dijual memenuhi kriteria ‘bebas perbudakan’.

DPR menyetujui dengan suara 291 setuju dan 115 menentang. Tetapi Senat tidak melakukan pemungutan suara karena perusahaan coklat menggunakan mantan Senator Bob Dole dan George Mitchell untuk melobi para senator lainnya.

Meskipun gagal, jalan tengah dicapai. Produsen coklat sepakat dengan anggota Kongres membuat Protokol Harkin-Engel untuk menghapuskan perbudakan dari industri coklat mulai Juli 2005. Protokol ditandatangani para dirut perusahaan coklat, anggota kongres, Dubes Pantai Gading untuk Amerika Serikat dan lembaga-lembaga yang terkait dengan buruh anak.

Uni Eropa mensahkan resolusi pada 2012 untuk menerapkan sepenuhnya protokol tersebut dan memerangi penggunaan buruh anak-anak dalam produksi coklat. Resolusi itu dikritik Forum Hak-hak Buruh Internasional karena tidak mengikat secara hukum.

Keberatan Forum terbukti. Perusahaan-perusahaan hingga tahun 2015 gagal mengurangi hingga 70 persen jumlah buruh anak sebagaimana ditetapkan oleh protokol. Akhirnya, batas waktu diperpanjang hingga 2020.****

*) Penulis adalah Kabag Pengembangan dan Penelitian

Berita Terkait