Mengapa AS Kritik Prakarsa OBOR?

Oleh : Sjarifuddin Hamid

Presiden China Xi Jinping mencanangkan Prakarsa Satu Sabuk dan Satu Jalan (One Belt One Road Initiatives) enam tahun lalu. Dikemukakan di Indonesia dan Kazaksthan, serta dirinci lebih jauh oleh PM Li Keqiang ketika mengadakan lawatan ke banyak negara.

Alur proyek infrastruktur jalan raya, kereta api dan angkutan lain ini menapak jalur sutera lama yang dilakukan para pedagang dan pengelana. Mulai dari China, melewati Asia Tengah, Semenanjung Balkan dan Eropa Barat, termasuk Venesia, Italia, kota pelabuhan yang diduga tempat kelahiran Marco Polo.

Xi Jinping menyebut proyeknya sebagai Jalan Sutera Baru yang didasarkan kepada kerja sama bukan kompetisi kulit hitam – kulit putih. Negara-negara yang tercakup di dalamnya, pada umumnya tidak termasuk dalam gagasan AS bagi pembangunan infrastruktur Trans Indo-Pasifik maupun Trans Atlantik.

Puluhan pemimpin pemerintahan dan ribuan pengusaha maupun akademisi menghadiri KTT Prakarsa OBOR di Beijing pada Mei dua tahun lalu. Sementara peserta pada KTT kedua tanggal 25-26 April 2019 diperkirakan lebih banyak lagi, termasuk delegasi resmi pemerintah Italia walaupun AS menghendaki Italia menolak undangan China.

Antusiasme yang diperlihatkan para peserta, menunjukkan masyarakat internasional sudah lelah dengan konflik. Mereka, seperti negara-negara Balkan yang terpecah-pecah, ingin kembali kerjasama pembangunan regional dan internasional.

Amerika Serikat Cemas

Sekalipun China berulangkali menegaskan motif Prakarsa ini, tetapi Amerika Serikat khususnya dan negara-negara Barat umumnya meragukan motif Beijing. Disebutkan Prakarsa merupakan instrumen misi bersejarah membangkitkan kembali China sebagai negara unggulan dan mempunyai peran unik dalam politik internasional.

Presiden China Xi Jinping

Xi Jinping dikatakan sedang menciptakan jawaban China yang khas terhadap problem yang dihadapi umat manusia. Xi menggunakan model sosialisme untuk membangun kawasan-kawasan yang lebih miskin.

Direktur Badan Intelijen Nasional AS Dan Coats dalam dengar pendapat dengan Komite Intelijen Senat di Washington pada 31 Januari 2019 menyatakan, Prakarsa OBOR memiliki sekurang-kurangnya dua tujuan. Bukan hanya membangun pelabuhan , jalan raya, jalan kereta api dan membantu perekonomian nasional tapi juga berkepentingan menguasai posisi-posisi strategis untuk kepentingan militernya.

Ditambahkannya, China akan menjadikan berbagai proyek itu sebagai pijakan untuk memperluas pengaruh ekonomi dan militer. “Untuk itu kami mengantisipasi penguatan dan peningkatan pengaruh China di kawasan Laut China Selatan”.

Bagi China, Prakarsa OBOR yang mencakup 68 negara di Asia, Afrika dan Eropa yang berpenduduk 4,4 miliar serta menghasilkan hampir menghasilkan 40% Produk Domestik Bruto Dunia di samping memberi keuntungan politik dan ekonomi, juga mengandung resiko yang harus ditanggung sendiri.

“Beijing dikabarkan sudah mengeluarkan US$1 triliun dan lebih banyak lagi pada dekade mendatang,” ungkap James Griffiths dari CNN dua tahun lalu.

Sesungguhnya masih banyak kriteria yang belum jelas dari proyek-proyek infrastruktur dan investasi yang akan dipayungi dan dibiayai berdasarkan skema Prakarsa OBOR. Yang sering menjadi contoh adalah kegagalan pemerintah Sri Lanka membayar pinjaman yang digunakan membangun pelabuhan Hambantota. Kegagalan membayar utang menyebabkan pemerintah memberi kuasa selama 99 tahun kepada China untuk mengelola Hambantota.

Sekalipun Prakarsa OBOR masih belum rinci, tetapi Amerika Serikat bersama Australia dan Jepang menerbitkan inisiatif pembangunan infrastruktur di Indo-Pasifik yang senilai US$113 juta. Gagasan itu diumumkan di tengah konferensi APEC di Port Moresby, Papua Nugini pada November 2018.

Di tengah perbedaan pandangan AS dan China, para peserta KTT Prakarsa OBOR II dapat segera mengambil manfaat. Para kepala negara dan pejabat tinggi pemerintah asing dapat mengadakan pertemuan bilateral di antara mereka.
Ribuan pebisnis dari puluhan negara mengidentifikasi peluang usaha atau membangun kontak.

Pemerintah China menjadikan Beijing sebagai contoh etalase ibukota negara modern, di mana kejayaan lama dan bangunan-bangunan modern berada. Bisnis pariwisata dan derivatifnya memperoleh rezeki besar. Bukankah banyak peserta yang ingin melihat dan berjalan-jalan di Tembok Besar.

Pada bulan April, musim dingin di Beijing telah berlalu. Berganti dengan musim semi yang sedikit hangat tetapi kerap dilanda badai pasir dari gurun Gobi. Tapi jangan khawatir, tuan rumah akan menjamu dengan aneka makanan hangat termasuk bebek panggang Quanjude yang terkenal itu.

Amerika Serikat selayaknya berfikir ulang. Mayoritas negara tidak menginginkan konflik yang menjauhkan rakyat dari kesejahteraan dan perdamaian, serta hanya menguntungkan military industrial complex.***

Penulis adalah Kepala Penelitian dan Pengembangan uprjayaraya.com

Berita Terkait