MRT: Pembangunan Moda Transportasi Memerlukan Pembangunan Karakter (1)

Oleh: Sjarifuddin Hamid

Sekira pukul 19.30 WIB, Selasa, 2 April lalu, saya menumpang moda transportasi massal cepat atau Mass Rapid Transportation (MRT) di Jakarta. Saya sengaja memilih waktu karyawan pulang kerja untuk mengetahui tingkat kepadatan penumpang.

Ini hari kedua, penumpang harus membayar Rp7.000 mulai dari stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai Lebak Bulus, sejauh 15,7 km. Mulai bulan depan, ongkos naik dua kali lipat.

Tak tersedia eskalator untuk turun ke bawah. Calon penumpang harus menapak sekitar 61 anak tangga. Lumayan curam.

Sampai di bawah, terdapat ruangan yang kira-kira sama luas dengan ruang pertemuan Universitas Palangka Raya. Di sini ada mesin yang menyediakan ticket secara otomatis (vending machine) dan loket penjualan tiket.

Sesuai dengan keinginan calon penumpang yang menghendaki kecepatan, maka vending machine kelak harus ditambah. Di stasiun MRT negara lain, jumlah vending machine lumayan banyak hingga antrean tak mengular. Ketersediaannya juga menjadi daya tarik lantaran menawarkan kemudahan.

Perlukah Trial and Error

Pengelola MRT menyebut periode Maret (gratis) dan sepanjang April sebagai masa percobaan untuk menemukan kesalahan. Padahal penumpang sebetulnya tidak menginginkan masa trial and error melainkan lancar jaya.

Ternyata saya menemukan beberapa masalah yang membuat penumpang berkeluh kesah karena harapan terganggu. Tambahan lagi para petugas bingung ketika beberapa peralatan tak berfungsi. Di sini ada pertentangan antara ekspektasi penumpang dengan manajemen yang ingin agar maklum bila ada ketidakberesan. Bukankah ini masa trial and error?

Banyak Tiket

Selain tiket yang dibeli di loket, rencananya akan diterbitkan berbagai kartu seperti di kereta listrik sekarang. BNI, BRI dan PT MRT Jakarta juga akan menerbitkan sendiri tiket untuk sekali perjalanan dan tiket berulangkali perjalanan (multi trip).

Karcis multi trip bisa dipakai berulangkali perjalanan asal saldonya mencukupi. Ia bisa diisi ulang. Malam itu hanya BCA Flazz dan E-Money yang bisa digunakan melewati ticket gate.

Saya beruntung punya Flazz walaupun saldonya cuma untuk sekali jalan. Tak perlu antre, langsung menuju platform di lantai dua dengan menaiki banyak anak tangga. Kereta berangkat setiap sepuluh menit dan beberapa minggu mendatang, lima menit sekali.

Interior MRT seperti KA Jabodetabek dengan tempat duduk warna biru yang dipasang menyamping. Pada permulaan, MRT bergerak dengan hentakan dan agak tersendat. Di gerbong penumpang tak ada indikator kecepatan, namun Bunderan HI-Lebak Bulus ditargetkan ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.

Angga, mahasiswa Prodi Biologi F-MIPA UI, mengaku memilih MRT karena lebih cepat dibanding menggunakan motor atau mobil yang memakan waktu satu hingga dua jam. Dia menyambung dengan kereta Jabodetabek di Stasiun Sudirman, puluhan langkah dari Stasiun MRT BNI bila hendak ke kampus di Depok.

Jalur Bundaran HI-Lebak Bulus dikenal macet nyaris sepanjang hari. Mau Lewat Jalan Panglima Polim atau Pondok Indah sama saja. Membuang waktu dan bikin kesal karena karena banyak kendaraan dan pengemudinya tidak disiplin, lanjutnya.

13 Stasiun

Pengadaan MRT yang membentang dari pinggir ke pusat kota Jakarta diharapkan mengurangi penggunaan mobil atau motor. Di Jalan Juanda, Lebak Bulus disediakan lahan parkir seluas 8 ribu meter persegi dengan tarif seharian Rp5.000 untuk mobil dan Rp2.000 per unit buat motor.

Total ada 13 stasiun, mulai dari Bundaran HI sampai Lebak Bulus. Enam stasiun pertama berada di bawah tanah, sedangkan stasiun ke tujuh (stasiun Asean) dan seterusnya berada di atas jalur layang (elevated). Walaupun kereta berjalan di ketinggian, tak banyak yang bisa dilihat selama perjalanan. Maklum agak gelap.

Tepat Waktu

Benar kereta tiba tepat waktu, namun masalah yang timbul membuat penumpang berkeluh kesah. Mereka kembali harus antre untuk mengembalikan tiket dengan imbalan Rp15 ribu. Tiket sebenarnya boleh dibawa pulang dan berlaku selama tujuh hari ke depan. Lebih dari itu hangus.

Saya berada di tengah antrean yang lumayan panjang untuk membeli tiket di loket. Dimulai dari pertanyaan petugas, mau kemana? Berapa tiket yang akan dibeli? Kemudian jari jemari petugas mengulik layar sentuh. Pencet sana pencet sini. Lalu mengambil tiket berbentuk kartu (seperti ATM) ditempelkan ke mesin pemindai. Menghitung uang pembelian dan menyerahkan tiket ke calon penumpang. Satu penumpang dilayani tiga hingga empat menit bahkan bisa lebih.

Tak tahan menunggu. Seorang petugas memberi informasi, di bawah ada ATM untuk menambah saldo. Bergegas, saya menuruni 21 anak tangga. Sampai di bawah hanya ada kendaraan lalu lalang. Saya lalu berjalan ke arah lift, tapi tak berfungsi. Akhirnya naik lagi ke atas menapak 31 anak tangga.

Saya kembali mendatangi petugas karena tak menemukan ATM. Dia menjawab, lokasinya di Carrefour. Wah, lumayan jauh.

Saya akhirnya masuk ke dalam antrean. Proses berjalan lambat dan bencana itu pun datang. Mesin pemindai tak terkoneksi dengan layar sentuh. Petugas panik. Semua panik. Senioren yang datang pun tak berdaya.

Calon penumpang di depan saya bertanya ke Satpam, apakah bisa mencoba kartu yang dikeluarkan bank. Setelah dicoba di ticket gate ternyata tidak bisa. Dia pun berselisih dengan Satpam.

“Katanya bisa”.

“Kan saya bilang coba,” ujar Satpam.

Dengan wajar muram dia kembali ke antrean. Dia merasa tenang setelah saya persilahkan antre di depan saya. Katanya, untung bapak kasih. Kalau tidak, saya harus ke belakang.

Mesin pemindai tak dapat diperbaiki bahkan komputer dimatikan. Calon-calon penumpang dibawa memutar ke loket yang lain yang jaraknya sekitar 100 meter. Kami beriringan seperti pengungsi. Botol air putih jatuh, saya abaikan. Padahal menurut Perda DKI, dapat didenda Rp500 ribu.

Tiba-tiba saya ingat pengalaman di Stasiun Kereta Fukui, Perfektur Fukui, Jepang. (bersambung)

Berita Terkait