MRT : Pembangunan Moda Transportasi Memerlukan Pembangunan Karakter (selesai)

Oleh Sjarifuddin Hamid

Shinkansen Hikari, Jepang

Kereta datang lima belas menit lagi. Kita tunggu saja di sini, kata seorang teman dari Kementerian Luar Negeri Jepang. Saya pun window shopping di pertokoan stasiun Fukui.

Kami ke Fukui dari Tokyo pada pagi hari. Siangnya akan ke Kyoto. Bermalam di sana dan besoknya mengunjungi Kuil Kiyomizudera. Kuil besar yang dibuat dari kayu tanpa paku. Kiyomizudera sangat populer, seperti kuil Sensoji di Asakusa, Tokyo. Kepopuleran dimanfaatkan para pengusaha menengah kecil.

Begitu turun dari mobil, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan menurun yang tak begitu lebar. Di kiri-kanan jalan, berderet kios yang menjual makanan, minuman ataupun souvenir khas Jepang. Sayang, saya cuma tahu mochi. Maaf!

Kereta ekspres berwarna coklat itu datang. Laju kereta ini sebenarnya sudah cepat tapi ada lagi yang lebih ekspres yakni Shinkansen Nozomi. Kereta super ekspres yang berkecepatan sampai 300 km per jam. Saya naik Nozomi dari Kyoto ke Tokyo sore. Nozomi lebih unggul dibanding Shinkansen Hikari dan Kodama.

Stasiun Kereta Fukui, Jepang

Ketika duduk dalam kereta ekspres itu, saya melihat pemandangan yang menggetarkan. Seorang petugas yang mengenakan rompi berdiri di dekat bagian peron yang sedang diperbaiki. Dia berulangkali membungkuk. Kepala menunduk dan menggerakkan tangan kanan mempersilahkan calon penumpang berjalan pada bagian peron yang sudah diperbaiki.

“Mosiwake arimasen. Mohon maaf,” ujarnya belasan bahkan puluhan kali melakukan gerakan itu. Karena calon penumpang sangat banyak. Mimik wajahnya sangat sesuai dengan kalimat yang diucapkan.

Mengapa tidak ditinggalkan saja? Bukankah sudah ada rambu yang menunjukkan perbaikan sedang dilakukan?

Di perjalanan, saya merenung. Mengapa aroma kesopanan ada di mana-mana? Di stasiun, di warung ramen, di kios suvenir, di bandara, di hotel dan perkantoran, di pinggir jalan, terlebih di sekolah. Mengapa begitu mudah mengatakan,… maaf,… terima kasih. Dari mana sumbernya?

Keluarga dan Sekolah

Yuji Hamada, ekspatriat, beberapa hari lalu di Jakarta menyatakan orang tualah yang menanamkan pentingnya kebersihan, kejujuran, kesopanan, tertib, tepat waktu, tidak boleh berbohong, suka menolong, menahan emosi, menghormati orang yang lebih tua dan lain-lain. Orang tua juga memberi contoh. Anak-anak yang membangkang dikenai tindakan.

Saya pernah mendisiplinkan anak karena menjatuhkan buku dari rak. Padahal tidak menjadi masalah kalau sebelumnya sudah ada yang mengaku.

Bila di rumah diterapkan pendidikan moral, maka di sekolah berlaku pendidikan formal yang kurikulumnya juga mencakup penerapan nilai-nilai di atas. Para pengajar tidak menanamkan semangat persaingan di kalangan anak didik karena dianggap tidak baik. Sebagai gantinya, dibangun rasa dan semangat gotong royong. Makanya ada kegiatan membersihkan sekolah, membawa makan siang dari dapur sekolah ke kelas dan sebagainya.

Yang menarik, permulaan tahun ajaran dimulai pada bulan April ketika bunga Sakura mulai mekar. Bisa dibayangkan berjalan ke sekolah saat itu seperti bertamasya. Anak-anak kelas satu diantar orang tua dan di halaman sekolah disambut murid kelas dua, guru-guru dan kepala sekolah. Meriah!

Berkat penanaman sekalian nilai-nilai di atas, anak didik tumbuh menjadi manusia unggul secara moral maupun kualitas pendidikan. Kecenderungan ini berlaku di seluruh Jepang.

Investasi Jangka Panjang

Program pendidikan di Jepang dapat dikatakan berhasil. Sukses menempa anak didik menjadi tulang punggung kemajuan negara. Saat bekerja mampu menghasilkan karya atau produk berkualitas tinggi dan membangun harmoni di kalangan masyarakat. Mereka juga tidak terlalu koruptif. Menurut Lembaga Transparansi Internasional 2017, Jepang menduduki peringkat 20. Sedangkan Indonesia nomor 37.

Ada budaya rasa malu

Keberhasilan pendidikan tak lepas dari besaran anggaran. Dari mana sumber dana hingga pemerintah dapat mengalokasikan anggaran pendidikan US$35,6 miliar dari total anggaran 2018 sebanyak $860 miliar. Boleh dikatakan separuh dari anggaran bersumber dari pajak.

Dalam konteks ini, benar yang dikatakan ekonom Hollis Chennery yang menyarankan Bank Dunia agar mendorong peningkatan pendapatan dari sektor perpajakan. Supaya pertumbuhan ekonomi seiring dengan redistribusi pendapatan.

Dikatakannya, pajak yang diperoleh negara kemudian dipakai untuk sektor pendidikan yang kelak menghasilkan SDM andal. Pengusaha pun senang. SDM inilah yang berperan memajukan perekonomian.

Keandalan SDM diperlihatkan dalam pembangunan MRT Lebak Buluk- Bundaran HI yang diresmikan Presiden Joko Widodo, 24 Maret 2019. Keandalan yang sangat bermanfaat. Sebab, mayoritas peralatan utama dan pendukung berasal dan dibuat di Jepang. Kereta listriknya buatan Sumitomo Corporation.

Bayangkan jumlah jam kerja untuk membuatnya dan berapa jumlah tenaga kerja yang diserap? Mungkin sekitar 80% dari pinjaman untuk pembuatan MRT kembali ke Jepang. Jumlah pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk MRT fase 1 yang terdiri dari 13 stasiun, enam di bawah tanah dan tujuh layang, ini mencapai Rp16 triliun.

Mass Rapid Transportation Ratangga, yang artinya kereta beroda, kini dikelola dan dikendalikan orang-orang Indonesia. Mereka secara teknis akan mampu menguasai, tetapi yang tertinggal adalah budaya melayani. Eloknya, saat komputer tidak berfungsi maka petugasnya segera memohon maaf dan Satpam juga tak perlu berdebat.

Menurut PT MRT Jakarta, jumlah penumpang per hari sudah mencapai 70 ribu sehari. Sudah pasti di antara mereka telah menggunakan MRT di negara lain, seperti di Chicago bahkan Moskwa. Sadar atau tidak, mereka tentu mengharapkan pelayanan yang lebih baik. ***

Berita Terkait