Oleh-oleh dari Shandong (1): Mengapa Tsingtao Beer dan Haier Tumbuh serta Berkembang?

Oleh : Faisal Hamid

Qingdao, Ibukota Provinsi Shandong, menjadi salah satu etalase kemajuan ekonomi China. Letaknya di sisi Laut Kuning yang memisahkannya dengan Semenanjung Korea. Iklimnya sejuk sepanjang tahun dan jumlah penduduknya hampir 10 juta jiwa.

Infrastruktur, terutama di pinggir pantai sangat mengesankan. Tetapi yang menarik di provinsi ini ada jejak-jejak pengaruh Jerman. Jerman memaksa China pada 1898 supaya menyewakan lahan seluas 558 kilometer persegi selama 99 tahun di Cina timur laut, tepatnya Qingdao atau Tsingtao. Pemaksaan ini terjadi setelah dua misionaris dibunuh.

Jerman tidak menggunakan penguasaan itu untuk menjadikannya sebagai koloni, sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat dan Australia, melainkan hanya tempat untuk mengelola perekonomian dengan menyewa selama 99 tahun. Jerman mendirikan sejumlah perusahaan, dua di antaranya tumbuh dan berkembang sampai sekarang ialah Tsingtao Beer dan Haier.

Bir Street

Saya tak percaya melihat kenyataan ini. Mengapa bir populer di Qingdao, bukankah seharusnya Tieguanyin (minuman Dewi Belas Kasih)? Di kedua sisi sebuah jalan yang lumayan lebar, berjajar puluhan cafe yang menampilkan aneka ragam produk Tsingtao Beer. Disediakan meja-kursi, hidangan laut serta jualan lain sebagai pelengkap. Lokasi nyaman untuk menghabiskan waktu ini dikenal sebagai Beer Street, tak jauh dari markas Tsingtao Beer.

Asal Muasal

Para pedagang Jerman berjasa merintis pabrik bir di Qingdao dengan nama Nordic Brewing Company pada 1903. Perusahaan tumbuh dan berkembang hingga menjadi perusahaan China pertama, Tsingtao Brewery Company Ltd., yang mencatatkan sahamnya di Bursa Hong Kong pada 1993.

Dewasa ini, Tsingtao Brewery memiliki sedikitnya 60 pabrik di 20 provinsi yang diawasi pemerintah daerah. Berbagai jenis produknya diekspor ke 90 negara termasuk Jepang, Amerika Serikat dan Eropa.

Pendapatan kotor pada 2017 mencapai US$25, 650.22 juta dan pendapatan bersihnya US$1,456.36 juta. Mengapa bisa demikian? Padahal pesaingnya juga tak sedikit mulai dari Carlsberg, Asahi, Sapporo hingga San Miguel?

Soal selera, tiap orang punya kegemaran masing-masing, tetapi Tsingtao Beer kepalang terkenal di dunia sebagai bir buatan China nomor satu. Manajemen mengutamakan kualitas melalui standar yang ketat dengan mempertahankan prosedur 1.800 pengujian per botol untuk menjamin menghasilkan bir yang rasanya renyah. Tak pahit.

Pemerintah China kemudian memberlakukan standar serupa di pabrik-pabrik bir yang lain, yakni mencakup kualitas bahan baku, termasuk gandum, beras dan air. Umur gandum, yang diolah menjadi malt, tidak boleh lebih dari tiga hari sejak dipanen. Airnya harus melalui 50 pengujian yang berbeda.

Standar itu juga meliputi, pemrosesan pembuatan bir yang sama, perlengkapan pabrik yang sama, prosedur pengawasan kualitas yang sama, pelatihan staf serta struktur perusahaan yang serupa. Hasilnya, produk yang aman, dapat dipercaya dan berkualitas tinggi. Standar ini sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Badan Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat dan lebih dari 400 peraturan keamanan pangan Eropa.

Sebuah tim periset yang terdiri dari enam doktor dan 17 pasca sarjana menangani penelitian tentang fermentasi bir. Di samping itu terdapat 23 orang penguji rasa bir yang berpengalaman.

Manajemen juga mendirikan museum yang menampilkan sejarah Tsingtao Beer dan proses pembuatan bir. Bukan hanya kalimat-kalimat dalam bahasa Mandarin dan Inggris yang ditampilkan, namun foto-foto dan diorama. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk meninjau museum, namun di akhir perjalanan tersedia cafetaria yang menjual bir dan makanan. Mewariskan kebajikan berujung kenyamanan.

Haier Group Corporation

Haier, satu lagi nama besar dari Provinsi Shandong. Seperti perusahaan-perusahaan Jepang, karyawan Haier dari hirarki puncak hingga yang terbawah memakai pakaian kerja yang sama. Kaos berkerah warna putih dengan pin bulat bertuliskan Hair di dada kiri. Pin sebesar kancing itu yang juga diberikan kepada para tamu sebagai souvenir.

Perjalanan Haier hampir mirip dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Haeir berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak menguntungkan. Namun tidak ditutup dan karyawan tetap menerima gaji. Kualitas kulkas yang dihasilkan sangat memprihatinkan dan dalam sebulan produksinya tak lebih dari 80 unit. Produk buruk itu dijual ke pasar domestik.

Haier didirikan tahun 1920-an, 20 tahun kemudian diambilalih pemerintah dan statusnya menjadi BUMN. Perubahan ini tak membawa perubahan berarti, malah menuju kebangkrutan lantaran kebijaksanaan ekonomi pemerintah yang terlalu berat ke politik, tata kelola yang buruk dan hasil produknya juga jelek. Pada dekade 1980-an, utangnya lebih dari 1,4 juta yuan.

Kini Haier, nama ini diambil dari perusahaan mitra asal Jerman Liebherr Haushaltgerate, tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan multinasional. Produknya tidak hanya kulkas tetapi juga berbagai produk untuk rumah tangga. Belakangan bukan sekedar produk yang mengandung energi listrik, tetapi juga internet.

(Bersambung)

Berita Terkait