Penyebab Negara Gagal atau Berhasil

Oleh : Sjarifuddin Hamid

Masih relevan studi untuk mencari penyebab, mengapa sebuah negara mayoritas penduduknya miskin sedangkan di negara lain kaya? Mengapa ada negara maju, sementara ada pula yang tertinggal? Mengapa ada yang gagal, tetapi ada pula negara yang berhasil?

Sekalian rasa ingin tahu itu membawa kita ke Korea Selatan dan Korea Utara. Jerman Barat dan Jerman Timur di periode Perang Dingin. Belakangan ke Botswana, negara yang berlokasi di kawasan sub Gurun Sahara, Afrika, yang berhasil beranjak dari garis kemiskinan.

Pada mulanya dipastikan penyebab kesuksesan lantaran negara-negara yang berhasil menerapkan sistem politik yang demokratis dan lembaga negara yang baik. Tetapi hal tersebut dinilai tidak cukup dan bernuansa propaganda Barat. Sampai akhirnya banyak pihak tiba kepada kesimpulan tak ada penyebab tunggal, serta sepakat kekayaan sumber daya alam tiada selalu membuat suatu bangsa maju.

Botswana

Botswana ketika merdeka dari penjajah Inggris tahun 1966 hanya mempunyai 12 km jalan aspal. Sejumlah 22 warganya lulusan universitas dan 1000 orang jebolan SMA.

Ekonom Daron Acemoglu and James A Robinson, pengarang buku Why Nations Fail mengatakan negara ini miskin sekali. Namun jumlah penduduk miskin dengan pendapatan US$1,04 per hari, turun secara dramatis dari 34,8% pada 1993, diperkirakan menjadi 10,6% dari jumlah total penduduk pada 2019. Apa penyebabnya?

Pemerintah menerapkan disiplin fiskal dan manajemen yang sehat. Pemerintah merambah sektor pertanian, jasa dan manufaktur untuk mengatasi ketergantungan pada sektor pertambangan. Pemerintah membuat peraturan yang mendorong pertumbuhan ekonomi, keterbukaan bagi investor asing untuk berinvestasi dan perdagangan serta mempromosikan daya saing dan daya tahan entitas bisnis. Adapun lembaga hukum yang independen memberi perlindungan kuat atas hak cipta.

Botswana seluas Spanyol dengan penduduk hampir dua juta jiwa, memiliki sumber daya alam yang berlimpah termasuk intan. Kini dikenal menerapkan ekonomi pasar, mempunyai peringkat kredit yang tinggi yang antara lain ditandai dengan, dapat meminjam dengan persyaratan yang ringan. Seperti Kenya, Botswana menggalakkan pula eko pariwisata.

Yang patut dicatat, adalah kebijaksanaan pemerintah yang hati-hati (prudent) setelah ditemukan intan pada 1970-an dan sumber daya berbasis mineral lainnya.

Pemerintah mempunyai separuh dari jumlah total saham pada perusahaan pertambangan intan, Debswana. Pendapatannya kemudian dimanfaatkan untuk pembangunan sosial.

Menurut paper yang diterbitkan Massachussets Institute of Techonology, kebijaksanaan yang berhati-hati dimungkinkan karena pejabat-pejabat pemerintah konsisten, memelihara stabilitas politik, membatasi aktifitas elit politik serta menerapkan peraturan anti korupsi.

Dalam upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam 30 tahun terakhir, pemerintah mendiversifikasi sumber pendapatan negara dengan membangun industri manufaktur, kaca, permata, kulit yang berorientasi ekspor, serta mendirikan Pusat Keuangan Internasional.

Kini, pendapatan per kapita US$70 per tahun di akhir 1960-an, beranjak menjadi sekitar US$ 16.420 dalam beberapa tahun terakhir.

Di balik keberhasilan itu, Botswana terhambat masalah geografis dan kecenderungan kemerosotan produksi intan. Ia terjepit di antara Afrika Selatan (selatan dan tenggara), Namibia (di sebelah barat) dan Zimbabwe (timur laut). Ia juga berbatasan dengan Zambia tapi panjangnya cuma beberapa meter.

Kondisi geografis tersebut menghambat pertumbuhan secara maksimal karena jalur ekspor sangat tergantung kepada Afrika Selatan yang memiliki pantai. Kondisi ini membuat daya saing Botswana berada di peringkat 81 dari 125 negara, sedangkan Afsel berada di posisi 45.

Negara ini juga memiliki masalah pelik karena 20 persen penduduk terinfeksi HIV/AIDS. Tergolong paling tinggi di dunia.

Yang patut dipujikan adalah kebijaksanaan pemerintah yang memanfaatkan hasil pengelolaan sumber daya untuk pembangunan sosial serta berupaya melepaskan ketergantungan dari sumber daya alam berbasis mineral. Dana pembangunan pun tidak dikorupsi.

Norwegia

Tidak kurang pentingnya adalah faktor psikologi dari mereka yang merencanakan dan mengelola sumber daya alam, seperti tergoda untuk meminta komisi. Selain itu itikad para pembuat kebijaksanaan, kalangan profesional dan mazhab faham ekonomi yang dianut serta apa yang ada dalam pemikiran mereka dan apa yang ingin dicapai.

The New Times, koran berbahasa Inggris terkemuka di Rwanda pada tahun lalu mengungkap, setiap negara punya penyebab kegagalan masing-masing. Misalnya, korupsi, lembaga-lembaga yang lemah, kelakuan kaum penjajah, pengaruh investor asing, latar belakang sejarah dan lainnya.

The New Times menilai Norwegia berhasil menghindari kegagalan memanfaatkan hasil sumber daya alam. Kegagalan seperti itu biasanya disebabkan ‘penyakit Belanda’ dan dikaitkan dengan negara yang kaya sumber daya alam namun gagal memanfaatkannya hingga tetap miskin.

Menurut data Bank Dunia, pendapatan per kapita Norwegia mencapai US$ 75.704,2. Jauh meninggalkan AS yang US$ 59.927,9, Inggris (US$39.953,6), Indonesia (US$3.846,4), Singapura (US$57.714,3). sedangkan Swiss US$ 80.382,48 dan Botswana US$753, 22.

Sementara dalam bukunya yang setebal roti gambung, Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed, yang terbit tahun 2005, Jarred Mason Diamond mengungkapkan pandangan yang kontroversial. Dikatakannya, peradaban Indonesia, Kolombia dan Nepal berada di ambang kehancuran. Begitupun dengan Somalia, Rwanda dan Zimbabwe.

Guru besar geografi di University of California, Los Angeles, mendasarkan pandangannya pada 12 masalah lingkungan, delapan di antaranya berdasarkan hancurnya sejumlah peradaban di masa lalu. Ke delapannya adalah, (1) kerusakan hutan dan lingkungan hidup. (2) kualitas tanah akibat menyusutnya kesuburan tanah erosi dan lain-lain. (3) Masalah Air. (4) Perburuan yang berlebihan. (5) Penangkapan ikan yang berlebihan. ( 6) Dampak dicampurkannya spesies pendatang dengan spesies asli. (7) Jumlah penduduk yang melebihi daya tampung alam. (8) Dampak pertambahan pendapatan masyarakat. Empat lainnya adalah (9) perubahan iklim akibat perilaku manusia. (10) Pertambahan racun dalam lingkungan hidup. (11) Kelangkaan energi. (12) Perilaku manusia yang memanfaatkan sepenuhnya proses fotosintesis yang tersedia di alam.

Temuan Mason sempat menimbulkan kontroversi. Tetapi karena merupakan sebuah studi ilmiah, maka layak untuk dijadikan pedoman. Apalagi dia menunjuk lenyapnya masyarakat di kepulauan Paskah, suku Maya, Anasazi dan lainnya sebagai bukti ketidakseimbangan kebutuhan manusia dengan daya dukung lingkungan atau gara-gara keserakahan manusia yang merusak lingkungan.**

Penulis adalah Litbang uprjayaraya.com

Berita Terkait