Puasa Menumbuhkan Kebersamaan (1)

Oleh : Dr. dr. H. Syamsul Arifin

SLOGAN mengenai pentingnya kebersamaan telah menjadi ungkapan dalam kehidupan sehari-hari yang membuat mulut ‘berbusa-busa’ mengucapkannya. Dalam dunia politik, slogan-slogan tersebut kadangkala dibuat hanya sekedar sebagai pencitraan belaka untuk menarik simpatik publik.

Dalam realitasnya, orang yang telah mencapai segala keinginannya kemudian‚ melupakan urgensi dan signifikansi kebersamaan dalam ruang yang lebih luas. Mereka hanya membangun kebersamaan dalam kelompoknya, tanpa mengajak kelompok yang lain. Padahal untuk membangun sesuatu hingga menjadi Jaya Raya, maka peran semua orang sangat dibutuhkan.

Dalam perspektif agama Islam yang berlandaskan pada Alquran dan hadist, sangat menekankan kebersamaan. Bahkan kita bisa mengatakan bahwa Islam adalah agama kebersamaan. Ajakan agama untuk hidup bersama dilandasi oleh posisi, kedudukan dan kapasitas manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendirian, tanpa bergantung kepada yang lainnya. Kehadiran manusia di bumi sejak awal kehidupannya telah melibatkan orang lain.

Dalam menjalankan aktifitas keseharian, menjaga tali silaturahmi sangatlah penting, baik dalam lingkungan sekolah, kantor, maupun di dalam masyarakat. Dengan menjaga tali silaturahmi, akan mencerminkan persaudaraan yang kokoh tanpa ada saling bercerai berai, sebagaimana Firman Allah SWT (QS. Ali Imran 103).

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Selain ayat tersebut, Anas radliallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan putus-memutus hubungan dan jangan belakang-membelakangi dan jangan benci-membenci, dan jangan hasut-menghasut dan jadilah kamu hamba Allah sebagai saudara, dan tidak dihalalkan bagi seorang muslim memboikot saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain sebagai makhluk sosial, manusia juga berkedudukan sebagai makhluk individu. Dualitas kedudukan manusia ini menyebabkan ia selalu dalam keadaan memilih antara pemihakan terhadap kepentingan individu dan pemihakan kepada kepentingan bersama secara kolektif. Pertarungan antara dua kutub kecenderungan yang berbeda inilah yang melahirkan paham individualisme (egoisme) di satu sisi dan kolektivisme (sosialisme) di sisi lain. Kondisi ini merupakan konsekuensi logis dari naluri bawaan sejak lahir yang oleh Sigmund Freud (1856-1939) disebut sebagai id, ego dan superego, yang merupakan unsur kepribadian seseorang. Untuk itu, melalui puasa dapat tumbuh pribadi-pribadi yang peduli sesama.

Apa kaitan puasa dengan kepribadian seseorang tumbuh melalui 5 M:

  • Dunia kesehatan lazim : Menguras, Menutup Mengubur, Memantau dan Mencegah gigitan nyamuk
  • Dosen : Memberi Kuliah, Meneliti, Mengabdi, Menyebarkan hasil penelitian dan Pengabidian dan Menerima gaji.
  • Guru-guru : Mengajar, Mengajar, Mengajar, Mengajar, Mengajar.
  • Puasa : Mengenali diri, Mengendalikan diri, Memotivasi diri, Mengenali emosi orang lain dan Membangun Hubungan baik. (Bersambung)

*Penulis adalah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Berita Terkait