Puasa Menumbuhkan Kebersamaan (2-habis)

Oleh : Dr. dr. H. Syamsul Arifin

Kecerdasan Emosi terdiri dari lima aspek, yaitu: Self Regulation (Kemampuan Mengenali Diri Sendiri), Self Control (Kemampuan Mengendalikan Diri),  Motivation  (Kemampuan Memotivasi Diri), Empathy (Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain), Social Skill (Kemampuan Membangun Hubungan Baik).

Riset Ilmiah dan Empiris yang dilakukan oleh Daniel Goleman membuktikan bahwa Kecerdasan Emosi atau sering disingkat dengan EQ berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang sekitar 80%, dalam beberapa literatur lain bahkan disebut hingga 90%.

Tidak salah lagi, puasa di Bulan Ramadhan yang berdurasi 29 hingga 30 hari, akan mampu meningkatkan dan menyehatkan kecerdasan emosi kita. Karena bukti ilmiah mengatakan bahwa perubahan perilaku atau kebiasaan akan terjadi setelah pengulangan yang ke 25 kali.

Puasa Ramadhan selama 29 hingga 30 hari adalah proses Coaching yang optimum untuk menyehatkan emosi kita. Sekarang mari kita buktikan bersama-sama.

Dengan puasa seseorang akan lebih dalam melakukan Self Regulation yaitu fase mengenali diri sendiri. Ketika tubuh merasakan lapar dan dahaga, di situ kita tahu bahwa sejatinya kita bukanlah siapa-siapa kecuali seorang hamba yang lemah tidak berdaya tanpa pertolongan dari Dzat Yang Maha Perkasa. Maka dengan ini dia akan tidak sombong, tidak angkuh, tahu diri dan rendah hati.

Dengan puasa kita akan lebih perkasa dalam Self Control atau mengendalikan diri sendiri. Karena meskipun yang membatalkan puasa adalah makan dan minum dengan sengaja, namun jelas dalilnya mengatakan jika selama menahan lapar dan dahaga kita gagal mengendalikan emosi atau amarah, maka gugurlah pahalanya, yang didapat hanyalah sekedar haus dan lapar alias sia-sia belaka.

Dengan puasa jelas kita akan lebih ber-empati kepada sesama manusia, bahkan kepada sesama makhluk hidup lainnya. Karena ketika kita merasakan betapa perihnya perut saat lapar dan betapa keringnya tenggorokan ketika haus, di situ kita akan merasakan bagaimana jika kondisi ini terjadi setiap saat kepada orang-orang yang miskin, kaum dhuafa dan kalangan fakir.

Dengan berpuasa seseorang akan lebih mampu untuk meningkatkan Social Skill-nya. Hal ini disebabkan incentive yang diberikan kepada siapapun yang mau memberikan makanan kepada mereka yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala dari orang yang menerima hidangan tersebut, tanpa dikurangi pahalanya. Klausul ini berdasarkan kepada dalil ilmiah yang teruji sahih. Artinya, mereka akan berlomba memberikan makanan berbuka atau hidangan sahur kepada sebanyak mungkin manusia. Tindakan ini jelas akan meningkatkan kemampuan seseorang untuk bersosialisasi.

Terakhir, puasa akan mampu meningkatkan motivasi. Hal ini disebabkan dengan berpuasa sebulan penuh seseorang akan terus menjaga motivasinya agar senantiasa stabil hingga garis finish, terutama mendekati 10 hari terakhir. Karena pada 10 hari terakhir Bulan Ramadhan, mereka akan mengejar satu malam yang setara atau bahkan lebih baik dari seribu bulan. Di malam itu orang yang berpuasa akan mengerahkan segala daya upaya agar bisa mendapatkan kebaikan yang belum tentu setara dengan jatah umurnya di dunia yang fana ini.

Jadi jelas sudah, bahwa puasa di bulan Ramadhan akan meningkatkan dan menyehatkan Kecerdasan emosi kita. Sehingga ketika EQ bertambah cerdas maka secara ilmiah akan meningkatkan kemungkinan kita meraih Sukses Paripurna.***

*Penulis adalah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Berita Terkait