Puasa untuk Kesehatan Manusia (1)

Oleh : Dr. dr. H. Syamsul Arifin

Menurut bahasa puasa berarti “menahan diri”. Menurut syara’ ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkanya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata-mata, serta disertai niat dan syarat-syarat tertentu.
Jika dilihat dari panjang durasi puasa dari waktu sahur menuju buka (maghrib) tahun 2019, Indonesia berada di posisi kedua dari 15 negara yang memiliki durasi puasa Ramadan terpendek di Asia pada tahun ini, yakni 13 jam 23 menit (pada hari pertama) dan 13 jam 21 menit (pada hari terakhir).
Untuk tingkat dunia, Selandia Baru menjadi negara dengan durasi puasa terpendek yakni 11 jam 10 menit. Sementara wilayah yang durasi puasanya paling panjang tahun ini jatuh pada Greenland yakni 21 jam 42 menit.


Pada tiap-tiap negara lama waktu berpuasa berlainan yang berdampak pada perubahan pola aktivitas terutama pola tidur. Frekuensi makan antara sebelum dan sewaktu berpuasa juga mengalami perubahan. Perbedaan mengakibatkan tanggapan biokimia tubuh yang berbeda yang pada akhirnya dapat mempengaruhi fungsi fisiologis dan kimiawi organ-organ dan jaringan tubuh selama puasa. Beberapa peneliti menemukan hasil yang berbeda satu sama lain, tetapi semua masih dalam batas yang normal (Nagra et al.,1998, Maislos et al., 1998, Fedail et al., 1982).


Sebagai dasar kajian Puasa untuk kesehatan Manusia, kita perhatikan bersama Firman Allah SWT dan Hadist Nabi Muhammad SAW yaitu:
“Dan, andai kalian memilih puasa tentulah itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” QS Al-Baqarah : 184.


Abu Umamah: ”Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu. Maka Rasulullah bersabda, ”Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa”. (HR Nasaa’i).

Berdasarkan dua dalil naqli tersebut, mari kita kaji secara ilmiah beberapa manfaat puasa bagi kesehatan manusia. Pada kesempatan ini, ada 4 kajian manfaat puasa yang akan kita bahas, yaitu:

Pertama, Sistem Pencernaan Istirahat

Makanan yang masuk ke dalam tubuh mengalami proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Di mana empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di dalam usus kecil. Apabila saat puasa, makan sahur dilakukan pada pukul empat pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja.


Dari pukul 12 siang sampai berbuka ada jarak waktu sekitar enam jam. Selama itu, alat pencernaan mengalami istirahat total dan ini terjadi selama satu bulan. Masa ini cukup untuk membersihkan makanan yang tertimbun dalam usus besar dan mengistirahatkannya dari proses pencernaan.


Puasa memberikan waktu untuk sistem pencernaan melakukan fase absorbsi yang lebih efektif. Puasa dikatakan juga sebagai fase paska absorbsi. Pada fase absorbsi, zat makanan yang masuk akan diserap melalui traktus digestivus dan diedarkan ke seluruh tubuh. Pada fase ini glukosa sangat berlimpah dan ia merupakan sumber energi terbesar. Sedangkan lemak dan protein sangat sedikit digunakan sebagai sumber energi, karena hampir semua sel akan menggunakan glukosa sebagai sumber energi apabila tersedia.

Kelebihan energi tidak segera digunakan tetapi disimpan dalam bentuk glikogen dan trigliserid. Pada fase paska absorbsi cadangan energi dalam tubuh akan dimobilisasi untuk menyediakan energi yaitu melalui proses glikogenolisis (pemecahan glikogen) dan lipolisis (pemecahan lemak) dan juga akan dibentuk glukosa dari sumber nutrien non karbohidrat (glukoneogenesis) (Guyton&Hall, 2007).**

*) Penulis adalah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Berita Terkait