Puasa untuk Kesehatan Manusia (2)

Oleh : Dr. dr. H. Syamsul Arifin

Puasa di bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk mengistirahatkan sistem pencernaan. Puasa itu untuk mengistirahatkan hingga menyehatkan sistem pencernaan. Dalam setahun, 11 bulan kita terbiasa dengan pola makan tiga kali sehari untuk menjaga kesehatan dan satu bulan di Ramadhan adalah waktunya untuk mengistirahatkan alat pencernaan.
Sebagai dampak istirahatnya sistem ini, perut akan mengalami kekosongan yang relatif panjang, sehingga volume darah di bagian pencernaan dapat dikurangi dan digunakan untuk kebutuhan lain terutama untuk melayani otak.

Oleh karena itu, ketika berpuasa otak akan menerima aliran darah yang lebih tinggi dibandingkan ketika tidak berpuasa. Di samping itu, kerja otot jantung juga lebih ringan dengan berkurangnya aliran darah ke sistem pencernaan ini, sehingga jantung bisa lebih sehat.

Kedua, Autophagy

Seorang peneliti asal Jepang, Profesor Yoshinori Ohsumi peraih nobel di bidang Ilmu Fisiologi atau Kedokteran yang menerima penghargaan pada 3 November 2016, menemukan bahwa puasa berkaitan erat dengan autophagy. Dilansir laman Medium.com, autophagy merupakan istilah Yunani yang berarti ‘memakan diri sendiri’. Secara ilmiah, autophagy dikenal sebagai kemampuan sel dalam tubuh untuk memakan atau menghancurkan komponen tertentu di dalam sel itu sendiri.

Melalui penelitiannya, Ohsumi menemukan bahwa autophagy memegang peran besar dalam tubuh. Mekanisme ini berperan besar dalam mengontrol fungsi-fungsi fisiologis penting di mana komponen sel perlu didegradasi dan didaur ulang.

Dengan autophagy, sel dapat mengisolasi bagian dari sel yang rusak, mati, tidak bisa diperbaiki, terserang penyakit maupun terinfeksi. Setelah mengisolasi bagian yang bermasalah, sel kemudian menghancurkan bagian tersebut menjadi sesuatu yang tidak membahayakan dan melakukan daur ulang untuk menghasilkan energi dalam sel.

Ohsumi menemukan bahwa kunci untuk mengaktivasi proses autophagy pada sel ialah kondisi kekurangan nutrisi yaitu dengan cara berpuasa. Di sisi lain, berpuasa membuat otak menerima sinyal bahwa tubuh sedang kekurangan makanan dan mencari-cari makanan yang tersisa dalam tubuh melalui hormon lapar (grelin). Proses ini membuat autophagy teraktivasi dan sel mulai melakukan perusakan terhadap protein yang rusak ataupun tua di dalam tubuh. Ketika kadar insulin dalam tubuh menurun, glucagon mulai bekerja dan membersihkan sisa-sisa sel yang telah mati atau rusak

Dari mekanisme ini, komponen-komponen sel yang rusak akan dibangun dan diperbaharui kembali. Pada kasus sel yang terkena infeksi, autophagy juga dapat mengeliminasi bakteri atau virus penginfeksi. Tak hanya itu, autophagy juga berkontribusi dalam perkembangan embrio hingga pencegahan dampak negatif dari proses penuaan.

Dari temuan ini diketahui bahwa mekanisme autophagy tak hanya berdampak baik pada kondisi sel yang bersangkutan saja. Mekanisme autophagy juga terbukti berperan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Karena autophagy berkaitan dengan kondisi kesehatan seseorang, gangguan dalam proses autophagy juga dapat menyebabkan masalah kesehatan. Beberapa masalah kesehatan yang berkaitan dengan terganggunya proses autophagy ialah diabetes tipe 2, kelainan saraf, kanker hingga berbagai penyakit yang berkaitan dengan usia.

Selama proses ini, tubuh harus terbebas dari makanan atau minuman minimal selama 12 jam, sesuai dengan durasi berpuasa umat Muslim pada umumnya. Sedikit saja makanan yang masuk ke tubuh sebelum 12 jam, dapat membuat proses autophagy terhenti.

Ketiga, Puasa Melindungi Kinerja Otak

Tim peneliti Amerika serikat menemukan bahwa puasa baik untuk otak. Salah satu peneliti yang terlibat adalah Mark Mattson, seorang ahli saraf di Johns Hopkins University, menemukan bahwa dengan mengendalikan dan membatasi asupan kalori, bisa meningkatkan ingatan dan keadaan pikiran seseorang.

Penelitian selama bertahun-tahun ini mengkonfirmasi kaitan antara jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh dengan kemampuan mental. Kalori di sini menjadi ukuran energi dalam makanan. Setiap kali kita makan, glukosa dari makanan disimpan di hati dalam bentuk glikogen. Tubuh membutuhkan waktu sekitar 10-12 jam untuk menggunakan semua glikogen tersebut. Setelah glikogen habis, tubuh akan membakar lemak yang diubah menjadi bahan kimia yang digunakan neuron sebagai energi. Bahan kimia ini penting untuk belajar, memori dan kesehatan otak secara keseluruhan.

Puasa juga dapat meningkatkan neurotropik yang diturunkan dari otak, yang membantu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sel otak, dan dihasilkan kelenjar adrenal yang dapat menurunkan tingkat stress seseorang. Karena hormon tersebut terpakai pada proses glukoneogenesis.***

*) Penulis adalah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Berita Terkait