Puasa untuk Kesehatan Manusia (3-habis)

Oleh : Dr. dr. H. Syamsul Arifin

Keempat, Puasa Menurunkan Berat Badan dan Tekanan Darah

Puasa adalah agenda efektif untuk mengurangi berat badan dan menurunkan tekanan darah. Penelitian dari University of Illinois di Chicago mengemukakan bahwa puasa atau membatasi waktu makan, mampu menurunkan berat badan pada penderita obesitas.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Nutrition and Healthy Aging mempelajari dan menganalisa 23 sukarelawan obesitas yang memiliki usia rata-rata 45 tahun dan indeks massa tubuh rata-rata atau BMI 35. Para peneliti meminta peserta untuk makan apapun antara jam 10 pagi dan 6 sore, tetapi selama 16 jam sisanya mereka hanya bisa minum air atau minuman bebas kalori. Studi ini diikuti para peserta selama 12 minggu.

Ketika dibandingkan dengan percobaan penurunan berat badan sebelumnya pada jenis puasa yang berbeda, para peneliti menemukan bahwa mereka yang mengikuti diet makan yang dibatasi waktu makannya atau puasa, lebih sedikit memiliki kalori, dan akan mengalami kehilangan berat badan serta penurunan tekanan darah.

Rata-rata, peserta mengkonsumsi sekitar 350 kalori lebih sedikit, kehilangan sekitar 3 persen dari berat badan mereka dan melihat tekanan darah sistolik mereka menurun sekitar 7 milimeter air raksa (mm Hg), ukuran standar tekanan darah. Semua tindakan lain, termasuk massa lemak, resistensi insulin dan kolesterol, serupa dengan kelompok kontrol.

“Pesan yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah ada pilihan untuk penurunan berat badan yang tidak termasuk penghitungan kalori atau menghilangkan makanan tertentu (yaitu dengan berpuasa),” kata Peneliti Krista Varady.

Meskipun mendatangkan berbagai manfaat, namun bagi sebagian orang menjalankan ibadah puasa cukup berat. Salah satunya pasien yang memiliki penyakit kronis seperti jantung, diabetes, hipertensi, ginjal kronik, hingga maag kronis. Untuk itu, ada hal-hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan pasien penyakit kronis sebelum memutuskan untuk berpuasa. Berikut ini kiat khusus bagi pasien penyakit kronis berdasarkan jenis penyakitnya.

  1. Diabetes Melitus (DM)
    Syarat puasa: kondisi gula darah dalam keadaan stabil dan terkontrol. Tidak mengalami hipoglikemia ataupun hiperglikemia dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Kontrol ke dokter terkait dosis obat yang dianjurkan. Menu yang dianjurkan adalah teh manis dengan gula khusus, beras merah, havermut, kentang rebus. Jika ingin minum es, usahakan yang berbahan dasar sirup atau gula merah khusus untuk diet. Menu yang tidak dianjurkan, yakni makanan bersantan seperti opor ayam dan rendang, es buah dengan kadar gula tinggi, teh tawar tanpa gula.
  2. Hipertensi
    Syarat puasa: kondisi penyakit dalam stadium ringan (stadium 1-3), tidak dalam keadaan kritis, tekanan darah terkontrol dan mendapat persetujuan dokter untuk puasa. Menu yang dianjurkan antara lain makanan tinggi kalium seperti belimbing, seledri, wortel, melon dan pisang, serta makanan yang mengandung saponin seperti tempe dan kacang-kacangan.
    Menu yang tidak dianjurkan, yakni makanan olahan, junk food, makanan siap saji, karena mengandung banyak garam dan natrium yang dapat meningkatkan tekanan darah.
  3. Penyakit Jantung
    Syarat puasa: tidak sedang dalam pengobatan rawat jalan, bukan merupakan pasien serangan jantung mendadak ataupun gagal jantung akut. Menu yang dianjurkan, antara lain makanan dengan karbohidrat kompleks seperti beras merah dan havermut serta buah-buahan dan sayur yang mengandung banyak serat. Menu yang tidak dianjurkan yakni makanan dengan karbohidrat simpel seperti mi instan, daging merah dan makanan cepat saji.
  4. Penyakit ginjal kronik
    Syarat puasa: mendapat izin dari dokter dan tidak dalam stadium berat. Tidak semua pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal diperbolehkan untuk berpuasa. Hal ini tergantung dengan kondisi fisiknya masing-masing. Pasien penyakit ginjal yang mengalami masalah seperti poliuria, kadar gula darah tidak terkendali, tekanan darah selalu tinggi, mengalami infeksi hingga komplikasi fungsi jantung, sebaiknya tidak melakukan puasa terlebih dahulu. Sebab puasa bisa saja semakin memperburuk kondisinya. Menu yang dianjurkan adalah makanan rendah kalori seperti beras merah, makanan rendah kalium dan fosfat, konsumsi air tidak lebih dari 300 cc. Sedangkan menu yang tidak dianjurkan adalah makanan tinggi kalium seperti produk susu, buah dan sayur. Makanan tinggi fosfat seperti daging merah, kacang-kacangan, cokelat dan gandum.
  5. Maag
    Syarat puasa: tidak dalam keadaan kritis atau pengobatan rawat jalan, konsultasi menu makanan dengan dokter. Menu yang dianjurkan antara lain makanan dengan kalori rendah dan tidak merangsang asam lambung. Menu yang tidak dianjurkan yakni makanan bergas seperti kol, durian, sawi, minuman bersoda, susu full cream dan kopi.

Selain itu, tidak dianjurkan tidur setelah bersantap sahur. Karena tidak baik bagi kesehatan. Idealnya, tidur adalah setelah makanan tercerna dengan baik. Normalnya isi lambung akan kosong kembali sekitar dua jam setelah makan.

Dengan tidur setelah sahur, makanan belum sempat tercerna dengan baik. Dan makanan yang belum tercerna bisa berbalik dari lambung ke kerongkongan (refluks).

Hal lain yang tidak kalah penting adalah makan sahur sangat disunahkan bagi orang yang berpuasa. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Sahurlah karena di sana terdapat keberkahan”.

Makan sahur merupakan keringanan (rukhsah) bagi orang yang ingin mengerjakan puasa. Sebaik-baik berbuka puasa adalah di awal waktu. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari  Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Karena yang benar datangnya dari Allah SWT Yang Maha Benar. Sedangkan yang salah, khilaf atau keliru, itu datangnya dari saya pribadi sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari salah, khilaf dan dosa.***

*) Penulis adalah Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Berita Terkait