Ini Kasus Yang Dibawa FH UPR Dilomba Persidangan Semu

Tim Kompetisi Persidangan Semu Universitas Palangka Raya, berfoto bersama usai latihan di labarotorium FH UPR, Jumat (14/12).

PALANGKA RAYA – Untuk pertama kalinya, Fakultas Hukum (FH) Universitas Palangka Raya (UPR) bisa mengkuti lomba persidangan semu. Lomba sendiri akan digelar bulan Maret 2019 di Universitas Negeri Semarang. Namun persiapan sudah mulai dilakukan 16 orang mahasiswa yang mengikuti lomba tersebut.

Lomba persidangan semu sendiri, menampilkan sejumlah kasus yang secara nyata sedang ditangani pengadilan di Indonesia. FH UPR kebagian tema soal kasus pencemaran lingkungan yang terjadi di Ambon, Provinsi Maluku.

“Dari panitia memang sudah menentukan temanya. Kebetulan kami kebagian tema kejahatan lingkungan. Kasusnya terjadi di Ambon, soal penangkapan ikan ilegal,” ungkap Ketua Kompetisi Peradilan Semu FH UPR Ali Mosbeh, Sabtu (15/12).

Menurut Ali, tim sudah secara resmi mendaftar. Berkas persidangan semu yang diikutkan kompetisi, sudah disiapkan. Tinggal pengiriman ke panitia penyelenggaran pada Januari 2019. Sekarang tim sedang berlatih keras, sehingga mampu menampilkan yang terbaik dalam kompetisi persidangan semu di UNS.

Pidana khusus lingkungan yang diangkat, kata Ali, soal Undang-Undang (UU) Nomor 32 tahun 2009 tentang lingkungan, dan UU Nomor 31 tahun 2004 yang dirubah menjadi UU Nomor 45 tahun 2009 tentang perikanan. Terdakwa persidangan semu akan dikenai pasal 103 UU lingkungan soal pencemaran lingkungan yang mengakibatkan terganggunya ekosistem.

“Pasal itu kami junto dengan pasal 100 UU perikanan tentang pelanggaran penangkapan ikan dengan peralatan yang melebihi standar mutu,” tegas Ali.

Maksud pasal itu, jelas Ali, terdakwa telah melakukan penangkapan ikan dengan kapal yang melebihi grasston yang ditetapkan. Kemudian ada penggunaan bahan peledak, pukat, dan lainnya. Terdakwa merupakan penanggung jawab di sebuah perusahaan ekspor ikan di Ambon.

Hasil persidangan semu nantinya, ungkap Ali, terdakwa yang berjumlah 3 orang terdiri dari General Manager, Manager Operasional, dan karyawan, akan diputus hukuman 3 tahun penjara, serta denda Rp3,5 miliar.

“Kami berterima kasih kepada Rektor UPR, Dekan, Wakil Dekan, Pengajar, dan Dosen Pembimbing yang memberikan kesempatan kepada kami ikut kompetisi. Kami diberikan bantuan yang cukup besar, untuk ikut berlomba,” tegas Ali.(redaksi)

Berita Terkait