IPB University Menganugerahkan Dr.HC Kepada Letjen TNI Doni Monardo

Letnan Jenderal TNI Doni Monardo saat memberikan Orasi Ilmiah dalam rangka penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa).

Uprjayara.com

Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bulan lalu mengumumkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Indonesia meningkat 3,72 poin dari angka 66,55 pada tahun 2019 menjadi 70,27 pada tahun 2020. Ini berarti melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yakni sebesar 68,71.

Kenaikan disebabkan perbaikan pada Indeks Kualitas Udara (IKU) dan Indeks Kualitas Air (IKA). Selain itu, adanya perubahan pembobotan dalam rumus untuk tahun 2020 juga berpengaruh dalam peningkatan IKLH, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian LHK, M.R. Karliansyah, 24-2-2021.

Sebanyak 9 provinsi memenuhi target yaitu Jambi, Kep. Bangka Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat. Sepuluh provinsi lainnya tidak memenuhi target yaitu Aceh, Bengkulu, Kep. Riau, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah.

Terakhir, hasil analisis terhadap IKAL tahun 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 13 provinsi telah memenuhi target dan 21 provinsi belum. Sebanyak 16 provinsi berkategori baik dan 18 provinsi berkategori cukup baik.

Selaras

Pernyataan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu selaras dengan pidato ilmiah Letnan Jenderal TNI Doni Monardo dalam penganugerahan Doktor Kehormatan kepadanya oleh Senat Akademik IPB University, di Bogor pada 27-3-2021.

Pidato yang berjudul “Model Tata Kelola Sumber Daya Alam dan Lingkungan” tersebut berisi pengalamannya dalam latihan, tugas kemiliteran maupun kewilayahan yang disertai dengan identifikasi vegetasi, perbaikan, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan setempat.

Dalam pidato itu diungkapkan kegiatannya sebagai anggota TNI yang juga mencurahkan perhatian kepada alam sekitar. Saat latihan di hutan sebagai anggota Kopassus, Doni mengidentifikasi dan mempelajari manfaat tumbuhan. Ketika di Asrama Brigif Para Raider III/Tri Budi Sakti Kostrad, Kariango, Sulawesi Selatan, dan berbagai wilayah di provinsi itu, melakukan pembibitan dan menanam pohon Trembesi.

Menurut Kepala BNP itu, ketika bertugas di Pasukan Pengamanan Presiden, membuat kebun bibit Trembesi di Cikeas dan mengembangkan kebun bibit trembesi di Rancamaya. Hasilnya, 100 ribu Trembesi ditanam di Bogor, Cianjur, Sukabumi, DKI Jakarta serta sepanjang kota Kudus, Jawa Tengah. Trembesi dipilih sebab satu pohon Trembesi dengan lebar kanopi 15 meter mampu menyerap polutan 28,5 ton per tahun, ujarnya.

Pengembangan bibit Trembesi dikukuhkan dengan mendirikan Paguyuban Budiasi di Sentul. Sejauh ini sudah dihasilkan sedikitnya 20 juta pohon dari paling tidak 150 jenis tanaman termasuk tanaman langka.

Ketika menjadi Pangdam XVI/Patimura membantu mengatasi kerusakan lingkungan di Gunung Botak akibat penambangan emas liar. Disamping meluncurkan program Emas Hijau dan Emas Biru yang merupakan upaya memangkas ketimpangan sosial sehingga berhasi merajut kembali tali persaudaraan pela-gandong yang akhirnya melahikan Emas Putih, yakni kerukunan, perdamaian dan toleransi.

Adapun program Emas Biru, lanjutnya, antara lain membuat Keramba Apung di Teluk Ambon, yang hasilnya dimanfaatkan untuk penduduk setempat.

Sungai Citarum di Jawa Barat juga mendapat penanganannya ketika menjabat Pangdam III/Siliwangi. Bersama instansi-instansi lain, program Citarum Harum diluncurkan hingga eko-sistem dan kualitas sungai Citarum membaik.

Dalam posisinya sebagai Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo menyimpulkan, keragaman vegetasi di Indonesia juga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi resiko bencana. Upaya penanggulangan harus menjadi strategi utama menghadapi potensi bersama. Mengingat seperti disebutkan Bank Dunia, Indonesia merupakan salah satu dari 35 negara dengan ancaman bencana tertinggi di dunia.

Sementara itu, Dr. Hadi Susilo Arifin, Ketua Promotor Penganugerahan Gelar Honor Causa, menyatakan penganugerahan didasarkan kepada konsistensi Letjen Doni Monardo dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Orasi ilmiah ini diikuti melalui Zoom dan video streaming oleh para pejabat pemerintah pusat dan daerah, Civitas Academica IPB University dan media. (Tim)

Berita Terkait