Tertarik Menjadi Diplomat? Ini syaratnya

Redaksi kali ini menyajikan wawancara yang komprehensif yang berguna bagi para mahasiswa atau lulusan Universitas Palangka Raya yang ingin menjadi diplomat.
Sumber berita adalah diplomat senior Bapak Sugeng Rahardjo.
Selamat membaca!

Curriculum Vitae

Nama lengkap            : Sugeng Rahardjo
Tempat dan tgl. lahir : Bandung, 18 September 1954

Karier di dalam negeri dan luar negeri :

1982 – 1983 : Kepala Seksi Pembukaan, Penutupan Perwakilan RI, dan Pengangkatan dan Pengakhiran Jabatan Kepala Perwakilan RI, Biro Umum

1984 – 1985 : Atase, Perutusan Tetap RI untuk PBB, New York
1985 – 1988 : Sekretaris III, KBRI Buenos Aires, Argentina
1989 – 1990 : Kepala Seksi Amerika Latin dan Afrika, Kasubdit KTNB   Direktorat HENB, Ditjen HELN.
1991 – 1995 : Sekretaris I, KBRI Washington D.C.
1995 – 1998 : Kasubid Investasi, Dir. Inveskue, Ditjen HELN
1988 – 2001 : Minister Counsellor, PTRI untuk PBB, Jenewa
2001 – 2005 : Direktur Mitra Wicara, Ditjen Kerjasama ASEAN.
2005 – 2009 : Dubes LBBP RI untuk Afrika Selatan merangkap Swaziland, dan Lesotho.
2010 – 2014 : Inspektur Jenderal Kementrian Luar Negeri
2014 – 2017 : Dubes LBBP RI untuk RRT merangkap Mongolia.
2018 – : Bergabung dengan perusahaan swasta

– Apakah diperlukan bakat bila ingin menjadi diplomat karena diplomat harus memiliki kemampuan berunding, mewakili kepentingan pemerintah dan warganegaranya, mempromosikan, membuat laporan dan mengatur?

Menurut pengalaman saya, untuk menjadi seorang diplomat tidak perlu bakat. Yang diperlukan adalah disiplin, kokoh dalam pendirian, memiliki semangat untuk belajar, dapat bekerja mandiri dan kerja berkelompok, mau mendengar, memiliki komitmen, berintegritas, toleran dan pantang menyerah.

Sedangkan fungsi diplomat yang disebutkan seperti negotiating, representing, protecting, and reporting dapat dipelajari selama menjalankan karier dan pekerjaan.

Pada umumnya, diplomat junior akan dilibatkan sebagai pencatat dalam proses perundingan yang dilakukan oleh diplomat senior. Selama mengikuti perundingan itulah, pelajaran yang sangat berharga bagi diplomat junior untuk dapat merekam bagaimana membuka perundingan serta mencairkan suasana, sehingga jalannya perundingan dapat berjalan dengan lancar dan hasilnya memuaskan kedua belah pihak. Catatan yang dilakukan oleh diplomat junior akan dijadikan masukan dalam menyusun laporan perundingan.

Dalam praktek selama ini, diplomat junior selain sebagai wakil negara dan melakukan perlindungan bagi warga negara akan diberi tugas untuk melakukan pekerjaan protokol, serta bertanggung jawab untuk Menyusun laporan mingguan yang merupakan rangkuman kejadian dalam seminggu di negara di mana ditempatkan dari sumber yang terbuka.  Dalam kaitan ini, kesempatan ini harus digunakan oleh para diplomat junior untuk mengasah kemampuan menyusun kalimat yang sederhana dan mudah dimengerti oleh pembaca, sehingga laporan dapat digunakan sebagai masukan berharga bagi Kementrian Luar Negeri.

Jelas kiranya, jadi seorang diplomat yang handal tidak memerlukan bakat, karena semua tugas dapat dipelajari dan yang paling penting modal seorang diplomat adalah memiliki karakter pribadi yang unggul, seperti dijelaskan di atas, dan selalu berpikir positif dan terbuka.

Dalam meniti karier diplomat, harus memiliki prinsip bahwa selalu jadi  bagian jawaban dari setiap permasalahan dan bukan bagian masalah dari setiap masalah yang dihadapi.

– Apakah kelemahan utama yang menjadi sebab seorang lulusan perguruan tinggi tidak diterima menjadi pegawai di Kemenlu?

Kelemahan utama dari lulusan perguruan tinggi tidak dapat menjadi seorang diplomat pada umumnya adalah tidak memiliki kepribadian yang unggul. Hal ini sangat penting bagi seorang diplomat, karena bekerja penuh dengan tekanan yang setiap saat dapat mengancam kehidupan pribadi.

Kepribadian yang unggul akan sangat membantu seorang diplomat dalam keadaan darurat, untuk dapat mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.

Oleh karena itu, untuk dapat masuk menjadi diplomat dan bergabung dengan Kementrian Luar Negeri, hal utama adalah kepribadian yang unggul. Karena fungsi diplomat yang lainnya dapat dipelajari selama meniti karier baik di dalam negeri maupun saat ditempatkan di luar negeri.

– Dapatkah dijelaskan jenjang pendidikan internal yang harus dilalui diplomat?

Pada umumnya calon diplomat diambil dari lulusan sarjana dari berbagai fakultas yang diperlukan oleh Kementrian Luar Negeri.

Dari pengalaman saya saat masuk calon diplomat pada tahun 1980. Awalnya mengikuti ujian tertulis pengetahuan umum, bahasa Inggris, dan wawasan kebangsaan. Apabila sudah lulus ujian tertulis, selanjutnya mengikuti psiko test, yang dilakukan oleh psikologi dari Angkatan Darat. Setelah lulus dari psiko test maka harus mengikuti ujian lisan pengetahuan umum dan bahasa Inggris. Apabila lulus ujian lisan, maka dapat diterima menjadi calon diplomat yang bekerja di Kementrian Luar Negeri.

Setelah diterima menjadi calon diplomat, maka dapat mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri (SEKDILU), yang biasanya diikuti selama satu tahun. Setelah lulus dari Sekolah Dinas Luar Negeri, dan usahakan mendapatkan nomor ranking yang baik, karena akan dijadikan ukuran untuk penempatan baik di unit Kementrian Luar Negeri maupun penempatan nantinya di luar negeri. Lulusan dari sekolah ini akan mendapatkan gelar diplomatik yaitu Atase.
Biasanya setelah penempatan pertama di luar negeri, para diplomat harus mengikuti sekolah lanjutan yang dinamakan Sekolah Dinas Luar Negeri Tingkat Madya (SESDILU). Untuk dapat mengikuti sekolah ini, diplomat harus lulus Toefl dengan skors 550. Lulusan dari Sesdilu Madya dapat mencapai gelar diplomatik sampai Counsellor.

Setelah penempatan kedua di luar negeri, para diplomat senior dapat mengikuti pendidikan berjenjang pada tingkat terakhir atau Sekolah Staf dan Pimpinan Luar Negeri (SESPARLU). Untuk dapat mengikuti sekolah ini, diplomat harus lulus Toefl dengan skors minimum 550. Diklat ini bertujuan untuk mempersiapkan para diplomat senior agar menjadi lebih professional, komunikatif, memiliki kemampuan memimpin dan kemampuan manajerial yang baik, jejaring yang luas, dan menguasai isu-isu strategis.

Seorang diplomat Indonesia harus menyelesaikan dan lulus dari Diklat Sesparluy agar dapat mencapai gelar diplomatik tertinggi. Oleh karena itu, untuk dapat mengikuti Diklat ini para calon peserta harus melalui seleksi yang ketat. Seleksi ini meliputi kemampuan bahasa asing, penguasaan isu-isu strategis, dan kemampuan memecahkan maslah dan menawarkan opsi-opsi solusi terhadap studi-studi kasus. Selain itu, para peserta juga harus memenuhi syarat telah menyelesaikan diklat untuk Diklat SESDILU dan tingkat Junior SEKDILU.

Selama mengikuti SESPARLU, para peserta mengikuti berbagai kegiatan dalam bentuk kuliah dalam kelas, seminar, diskusi panel, diskusi kelompok, simulasi, pelatihan keahlian (khususnya kepemimpinan dan komunikasi), kunjungan lapangan, dan diskusi dengan para pemangku kepentingan. Pada akhir pelatihan, para peserta diwajibkan membuat Policy Paper yang harus dipertanggung-jawabkan dan diuji di depan satu panel. Policy Paper adalah salah satu unsur penilaian bagi kelulusan peserta. Unsur lainnya adalah partisipasi, etika dan kehadiran. Untuk dapat dinyatakan lulus, seorang peserta harus memperoleh nilai rata-rata 71.

Diplomat yang lulus dari SESPARLU, jika berprestasi dan berintegritas, memiliki kesempatan untuk menjadi pejabat eselon I di Kementrian Luar Negeri dan sebagai Kepala Perwakilan dengan gelar Duta Besar.

– Tampaknya sudah menjadi kelaziman, seorang diplomat juga memperoleh pendidikan tambahan di perguruan tinggi luar negeri? Dapatkah dijelaskan secara rinci?

Perlu kiranya disampaikan bahwa untuk menjadi seorang diplomat perlu terus mengasah intelektualitas untuk memperluas wawasan pengetahuan, agar tidak tertinggal oleh berbagai masalah internasional yang berkembang secara cepat. Oleh karena itu, Kementerian Luar Negeri mencarikan beasiswa bagi para diplomat untuk melanjutkan pendidikan tambahan di perguruan tinggi luar negeri.

Kesempatan untuk mendapat pendidikan di perguruan tinggi luar negeri selalu dimanfaatkan oleh para diplomat untuk mendapatkan gelar akademis S2 dan S3. Disamping itu, ada manfaat bagi tugas diplomat selanjutnya yaitu mengembangkan networking dengan mahasiswa dari negara lainnya. Jejaring kerja ini akan sangat bermanfaat, jika diperlukan sewaktu waktu dalam memperlancar tugas diplomatik.

– Apakah dalam penempatan pertama, seorang diplomat muda kerap mengalami gegar budaya?

Pada umumnya bagi para diplomat yang memiliki karakter yang kuat dan integritas, tidak pernah mengalami gegar budaya. Karena tugas seorang diplomat yang baik dan berhasil adalah menjadi dirinya sendiri untuk mewakili negara Republik Indonesia di negara akreditasi (negara di mana seorang diplomat ditempatkan).

Jadilah seorang diplomat yang mumpuni dan trenginas, sehingga dapat mewakili negara berdasarkan budaya Indonesia dan memperkenalkannya dalam pergaulan internasional.

– Dapatkah dijelaskan kekebalan diplomatik yang dimiliki seorang diplomat?

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya seorang diplomat diberikan Hak Kekebalan dan Keistimewaan, hal ini dibenarkan oleh hukum internasional dan sudah menjadi hukum kebiasaan internasional sejak berabad-abad yang lalu, serta diatur dalam Konvensi Wina tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik (Vienna Convention on Diplomatic Relations, 1961).

Hak kekebalan yang melekat pada seorang pejabat diplomatic menurut  Konvensi Wina 1961 adalah kekebalan (inviolability) pribadi, kekebalan (immunity) terhadap yuridiksi pidana, perdata, dan administtrasi negara penerima, dan keistimewaan (privileges) berupa pembebasan dari pajak, iuran, bea cukai negara penerima (receiving state), pembebasan dari pemeriksaan barang, dan terdapat juga pembebasan dari jaminan sosial, pelayanan sosial, dan wajib militer.

Akan tetapi, walaupun pejabat diplomatic memiliki hak kekebalan dan keistimewaan, pejabat diplomatic wajib mematuhi hukum negara penerima (receiving state), dan tidak boleh mencapuri urusan negara penerima (receiving state).

– Berdasarkan pengalaman bapak, apakah menjadi diplomat itu menyenangkan sekalipun harus berpisah lama dengan sanak-saudara?

Perlu kiranya ditekankan bahwa betul dalam bertugas di luar negeri, saya jauh dari sanak saudara. Tetapi karena sudah memiliki “passion” (mencintai penuh semangat) terhadap pekerjaan sebagai seorang diplomat maka jauh dari sanak saudara adalah pilihan yang tidak dapat dihindarkan dalam meniti karier.

Sebagai pengalaman pribadi, saya kehilangan ayah saya tercinta pada bulan Desember 1987, ketika saya ditempatkan di Buenos Aires, Argentina. Saya kembali ke Indonesia untuk melihat terakhir kalinya ayah tercinta, membutuhkan waktu tiga hari, sehingga saya hanya dapat melihat pusara ayah saya.

Demikian juga dengan kehilangan ibu saya yang saya sayangi pada tanggal 28 November 2009 atau pada hari ulang tahun ibunda yang ke-91. Saat itu, saya akan mengakhiri tugas sebagai Duta Besar RI untuk Afrika Selatan pada tanggal 30 November 2009 dan sudah harus meninggalkan Afrika Selatan. Saya mencoba mencari tiket untuk kembali ke Indonesia tetapi tidak ada tiket yang dapat dibeli untuk kembali ke Indonesia untuk melihat untuk terakhir kalinya ibunda yang tersayang. Kembali saya tiba di Indonesia hanya pusara ibunda yang tersayang yang dapat ditemui.

Inilah duka menjadi seorang diplomat jauh dari sanak saudara, terutama orang tua yang membesarkan saya.

– Dapatkah dijelaskan pos diplomatik yang enak dan tidak enak?

Seluruh pos diplomatik, pada dasarnya semuanya negara enak. Yang berbeda adalah fasilitas yang dimiliki dan tantangan yang dihadapi  di setiap negara berbeda-beda. Jadi sangat tergantung dari diplomatnya sendiri, apakah dapat melakukan penyesuaian dengan cepat atau lambat. Jika dapat melakukan penyesuaian dengan cepat, maka dalam penempatan dimana saja akan merasa menyenangkan. Suasana ini akan mempengaruhi prestasi dalam bekerja.

– Bagaimana persyaratan agar seorang diplomat dapat ditempatkan pada pos-pos multilateral, seperti PBB?

Seperti yang telah diterangkan dalam jawaban-jawaban terdahulu, untuk dapat ditempatkan di pos multilateral, maka seorang diplomat harus memiliki prestasi yang menonjol pada saat jenjang pendidikan di Kementrian Luar Negeri. Selain itu, juga harus memiliki berbagai kelebihan dibandingkan diplomat lainnya, seperti dalam membuat laporan dapat ringkas dan komprehensif; dapat menjelaskan masalah yang rumit dengan sederhana dan mudah dimengerti, dengan baik, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Disamping dapat berkomunikasi dengan siapapun dengan baik, dan memiliki sifat toleran terhadap perbedaan. Karena di pos multilateral, seorang diplomat akan berinteraksi dengan berbagai ragam diplomat yang datang dari lebih 200 negara.

– Berapa bahasa asing yang sebaiknya dikuasai? Apa saja?

Bahasa yang harus dikuasai, pada umumnya bahasa Inggris. Tetapi akan lebih baik menguasai berbagai bahasa Perserikatan Bangsa Bangsa, seperti bahasa Mandarin, bahasa Rusia, bahasa Arab, bahasa Perancis, dan bahasa Spanyol.
Bahasa merupakan senjata bagi diplomat, karena akan membantu melakukan komunikasi dengan mitra kerja. Oleh karena itu, menguasai berbagai bahasa terutama bahasa PBB, akan membawa manfaat bagi pengembangan karier seorang diplomat.

Berita Terkait