UPR Peringkat Pertama dalam IKU 7

Uprjayaraya.com
Palangka Raya,
Delapan Indikator kinerja utama yang menjadi salah satu bentuk pencapaian setiap perguruan tinggi terhadap implementasi program Merdeka Belajar atau lebih dikenal dengan singkat MBKM yang disyaratkan oleh Kemendikbud RI menjadi salah satu tolok ukur bagi penilaian terhadap pencapaian kinerja Perguruan Tinggi.

Hal ini diungkapkan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) melalui Wakil Rektor Bidang Akademik Prof.Dr.Ir Salampak MS.

Bahwa delapan indikator tersebut adalah lulusan mendapat pekerjaan layak, mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus, dosen berkegiatan di luar kampus, praktisi mengajar di dalam kampus, pemanfaatan hasil kerja dosen, program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia, kelas yang kolaboratif dan partisipatif dan program studi berstandar Internasional.

“Tahun kemarin UPR mendapat rangking satu dalam IKU Kategori ketujuh, yakni Kelas yang kolaboratif dan partisipatif. Kedepannya kita akan targetkan dalam kategori IKU lainnya,” ucapnya saat dibincangi diruang kerjanya, Kamis (13/01/2022).

Diungkapkannya bahwa kategori IKU 7 yakni terbentuknya kelas yang kolaboratif dan partisipatif, sehingga tidak lagi fokus utamanya adalah dosen.

“Mahasiswa di dalam program Kampus Merdeka akan ikut terlibat dalam membangun suasana kelas. Demi mendukung terciptanya pembelajaran yang efektif dan sesuai standar baru dari Kemendikbud,” katanya.

Dalam kategori ini, UPR dinilai berhasil dalam pelaksanannya dalam proses perkuliahan. Yakni mahasiswa ikut aktif dalam mengisi kelas.

“Misalnya lebih aktif bertanya dan lebih aktif dalam mencari referensi pembelajaran. Keaktifan mereka akan mendorong setiap mahasiswa belajar secara mandiri. Hasilnya tentu lebih efektif, karena mereka terbiasa untuk berusaha memahami materi sebaik mungkin,” jelasnya.

Disampaikannya, melalui program Kampus Merdeka, diharapkan penerapan kelas kolaboratif dan partisipatif ini lebih banyak menekankan kegiatan praktek. Sehingga kelas akan didominasi oleh evaluasi berbasis proyek dan metode studi kasus.

Ditekankannya, dalam kategori ini, posisi dosen akan lebih sebagai pemberi motivasi dan arahan kepada mahasiswa untuk kreatif dalam bekerjasama.

“Karena saat ini materi kuliah bisa diambil di internet. Jadi fokusnya lebih kepada bagaimana mahasiswa tersebut mengembangkan kemampuannya, keaktifannya, skill berbicara, menerima masukan dan menyelesaikan kasus yang dihadapi. Kuncinya, bagaimana mahasiswa berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Ditambahkannya bahwa proses tersebut akan menilai skill, komunikasi, ketangkasan, mencari solusi, menerima masukan mahasiswa tersebut. Pasalnya, kelebihan tersebut saat ini diperlukan dalam dunia usaha.

“Kedepannya, seperti yang disampaikan Rektor bahwa seluruh jajaran petinggi rektorat hingga tingkat kabupaten dan satuan kerja terbawah, untuk mempertahankan hal tersebut. Selain itu agar dapat dicapai program IKU yang lainnya,” katanya.

Salampak juga menyampaikan Indikator Kinerja Utama atau IKU ini akan menentukan apakah suatu perguruan tinggi bisa mendapatkan bonus insentif kerja sebesar Rp 500 miliar. (Rul)

Berita Terkait