Ribuan Warga Kalteng Terkena ISPA

Terpapar Kabut Asap dari Karhutla

dr Suyuti Syamsul

PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah banyak menimbulkan dampak negatif. Di samping menyebabkan bencana kabut asap, juga terjadi gangguan kesehatan. Di Provinsi Kalteng, gangguan kesehatan berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dialami ribuan warga.

Pemerintah Provinsi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota se-Kalteng telah melakukan upaya penanganan gangguan kesehatan warga yang terpapar dampak kabut asap.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalteng dr Suyuti Syamsul mengungkapkan, penderita ISPA di Kalteng pada minggu ketiga September 2019 tercatat sebanyak 3.394 orang. Jumlah ini mengalami kenaikan 495 orang, dari minggu sebelumnya yaitu 2.899 orang.

“Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terpapar kabut asap, Dinkes di kabupaten dan kota berkoordinasi dengan Dinkes Provinsi. Jadi, kita sudah melakukan koordinasi dari level bawah hingga ke provinsi,” kata dr Suyuti dalam jumpa pers di ruang Media Center Pos Komando Penanganan Tanggap Darurat Bencana Karhutla Provinsi Kalteng di Palangka Raya, akhir pekan kemarin.

Acara ini dihadiri Kepala Dinas Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik Provinsi Kalteng Ir Herson B Aden MSi, Kepala RSUD Doris Sylvanus dr Yayu Indriaty Sp KGA dan Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Dr H Slamet Winaryo MPd.

Dipaparkan Suyuti, ada beberapa langkah yang sudah dilakukan Dinkes dalam upaya penanggulangan bencana Karhutla khususnya di bidang kesehatan. Di antaranya, penguatan jejaring layanan kesehatan antara Dinkes Kabupaten/Kota hingga Provinsi, Rumah Sakit dan Kantor Kesehatan Pelabuhan.

Pihaknya telah menginstruksikan Puskesmas yang ada di daerah-daerah yang dilanda kabut asap, untuk menyediakan ruang oksigen bagi masyarakat yang terpapar kabut asap. Kemudian, pengaktifan Posko Pelayanan Kesehatan di Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pembentukan Emergency Mobile Team (EMT). Petugas EMT memberikan pelayanan kesehatan kepada petugas lapangan dan penduduk sekitar yang terdampak kabut asap.

“Total warga yang telah dilayani melalui EMT, sejak bulan Agustus sampai 20 September 2019, berjumlah 400 orang,” katanya.

Ditambahkan Suyuti, pihaknya juga telah mengaktifkan Tim Reaksi Cepat (TRC), tim penanganan bencana di rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta. Selain itu, juga telah mengaktifkan Pos Pelayanan Lini Satu di seluruh Puskesmas se-Kalteng.

Dipaparkan pula ketersediaan ruang sehat dengan oksigen. Di mana saat ini ada sebanyak 194 tempat yang lokasinya tersebar se-Kalteng. Rinciannya terdiri dari Puskesmas 159 tempat, rumah sakit 20 tempat, serta ruangan-ruangan lainnya yang memungkinkan sebanyak 15 tempat. Ruang sehat itu secara keseluruhan telah melayani sebanyak 803 orang.

Selain ruang sehat, juga telah disediakan mobil oksigen, sebanyak lima unit, berupa bus dua unit dan mobil ambulance tiga unit. Dalam beberapa hari terakhir, mobil oksigen itu telah melayani 257 orang di berbagai titik kumpul massa yang jauh dari lokasi ruang sehat.

“Yang pasti, dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat terpapar kabut asap, kami sudah mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki, baik itu di kabupaten dan kota hingga provinsi. Kami juga sangat mengapresiasi semua pihak yang berinisiatif membuka pelayanan kesehatan secara mandiri,” kata dr Suyuti.

Menurut dia, apabila ada bantuan tenaga kesehatan dari negara luar melalui NGO, diharapkan dapat berkoordinasi dan melaporkan kepada pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan. Sehingga diharapkan semuanya dapat terkoordinir dengan baik, serta memastikan orang-orang yang dikirimkan adalah benar-benar tenaga medis, dan akan diverifikasi.(mz/red)

 

 

Berita Terkait